Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Tak ada panggilan dan profesi hidup yang dapat dijadikan sebagai cermin kehidupan, selain profesi sebagai guru.”
(Amanat Kehidupan)
Akar kata dalam bahasa Sanskerta, guru dari dua kata, yaitu ‘gu’ dan ‘ru’. ‘Gu’ bermakna kegelapan, sedangkan ‘ru’ dimaknakan sebagai cahaya. Hemat saya, guru dapat didefinisikan sebagai sang pengusir gelap (ketidaktahuan), yang terang. Demikian paragraf pertama tulisan Adrianus, Guru SMP/SMA St. Fransiskus Asisi Pontianak. Dalam kolom Opini, Surat kepada Redaksi, harian Kompas, Senin, (8/12/2025) berjudul, “Guru Panggilan Hati.”
Guru sebuah Profesi Mulia
Di sisi yang lain, ‘kata guru’ dapat bermakna sebagai sebuah profesi yang dapat “digugu dan ditiru.” Artinya dia yang lewat profesi mulianya itu adalah sesosok pribadi yang jadi andalan, panutan, dan cerminan bagi para muridnya untuk digugu dan ditiru. Dalam konteks yang sangat spesial ini, panggilan jadi guru sebagai sebuah profetis alias panggilan kenabian. Mengapa demikian? Bukankah peran seorang guru justru sebagai pribadi yang mendidik dan mengajar tentang kebaikan serta kebenaran? Gurulah sang pewarta kebaikan dan kebenaran hidup lewat pengajaran serta terutama dari aspek keteladanan yang mereka tampilkan.
Sebelumnya dalam Opini yang berjudul, “Guru Gen Z Tampil Menyiasati Zaman” oleh Stephanus Aranditio dan Vina Oktavia ditampilkan sejumpah sosok guru muda: Mihtahul (26), Diki (28), Anggraini (29), dan Safira (27) yang justru merasa sangat enjoy lewat profesi mereka, terutama di saat mereka sedang bertatapan muka dengan para muridnya di kelas. Mereka memilih profesi guru sebagai aktualisasi diri, panggilan hati.
Bahkan mereka bersaksi, bahwa sekalipun berhadapan dengan murid ‘bandel’, ‘bodoh’, namun hatinya tetap tenang, karena mereka memiliki yang disebut sebagai passion, demikian Adrianus.
Di kala mereka sedang berprofesi sebagai guru, dan disadarinya, bahwa hal itu sebagai sebuah panggilan hati, maka hormon kebahagiaan yang disebut endorfin dari kelenjar hormonal disekresikan, sehingga mereka merasakan kegembiraan luar biasa. Demikian Adrianus.
Guru dengan P7
Dalam kesadaran sejati, bahwa jadi guru itu sebagai sebuah panggilan hati, maka guyonan atau olo-olokan kepada guru ‘P7’ (pergi pagi pulang petang penghasilan pas-pasan), tidak bermakna sedikit pun bagi mereka.
Pada akhir tulisannya, Adrianus pun menghimbau!
Kita harus memperhatikan nasib guru agar tidak ada yang berpaling ke lain hati, dan kian banyak generasi muda memilih profesi sebagai guru.
Refleksi
- Guru sadarilah selalu, bahwa sungguh, betapa mulianya panggilan hati Anda.
- Guru adalah Nabi yang mewartakan kebaikan dan kebenaran sejati.
- Dalam kehidupan kita perlu belajar seumur hidup (vivere tota vita discendum est).
Kediri, 9 Desember 2025

