Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com – Pada hakikatnya, semua manusia memiliki aspek rohani jasmani, ada dimensi spiritualnya. Karena itulah, manusia bisa mempunyai pengalaman spiritual, religiusitas, pengalaman rohani. Pengalaman akan adanya hal gaib, keyakinan akan arwah yang hidup setelah kematian raga, akan wujud tertinggi dalam alam semesta.
Hemat saya, semua hal itu jadi salah satu energi kehidupan dalam setiap komunitas adat budaya lokal, yang terungkap dalam bahasa adat ritual, tradisi ritus dan simbol serta tempat ritual, pemangku adat ritual dan hal sakral lainnya. Inilah yang bisa disebut sebagai “Kepercayaan Asli Adat Budaya” yang dihidupi oleh komunitas lokal di berbagai wilayah dunia.
Dalam sejarah pengalaman di tempat asalku, ada perjumpaan dengan masyarakat komunitas luar, yang kemudian ikut mempengaruhi kepercayaan asli adat budaya. Misalnya perjumpaan dengan komunitas Jawa, Sulawesi, Maluku, China, Arab dan Eropa. Perjumpaan ini terjadi ketika ada pelayaran untuk perdagangan, ekspansi kerajaan zaman lampau serta koloni dagang Eropa (Pertugis, Spanyol, Belanda), serta China dan Jepang.
Selain pengaruh dagang, budaya dan politik, ternyata para pendatang juga membawa keyakinan iman mereka yakni agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha. Ada sisi positif yakni terjadi semacam dialog, relasi saling melengkapi, dan bersinergi. Tapi banyak juga bentuk pemaksaan, stigma dan upaya penghancuran kepercayaan asli adat budaya, dengan berbagai alasan oleh para pewarta agama.
Apa yang saya alami di kampung asalku, mungkin juga terjadi di komunitas adat budaya lainnya di Nusantara. Banyak warisan tradisi spiritual dari kepercayaan asli dihancurkan, dengan alasan kafir, animisme, menyembah berhala, dan stigma negatif lainnya. Dengan manajemen, kekuatan organisasi dan senjata serta dukungan kekuasaan politik, maka upaya penyebaran agama mendominasi. Masyarakat lokal terpaksa mengingkari khasanah spiritual dan religiusitas tradisinya dan menerima agama yang dipaksakan sebagai hal paling benar dan suci. Apalagi, kepercayaan asli adat budaya, kebanyakan diwariskan dengan tradisi lisan tanpa sosok nabi tertentu, maka sepertinya kalah dengan agama yang memiliki tradiai tulisan dan sosok nabinya.
Kenyataan yang terjadi hingga sekarang, menurut dugaan saya, banyak masyarakat adat budaya pada hakikatnya ada pada posisi mengenaskan dan tertindas secara spiritual. Mau meninggalkan kepercayaan asli pun takut, lalu sekarang semakin hilang tradisinya, lalu mengikuti agama, karena takut. Ada ketakutan untuk bertanya dan takut dicap kafir atau PKI. Namun, beberapa ritual kepercayaan asli pun tetap dijalankan karena takut kepada para leluhur. Sedangkan generasi muda, dengan derasnya pesona digital milenial, maka semakin apatis kepada kepercayaan asli maupun agama.
Apakah hal ini penting untuk diperhatikan?

