Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kehangatan sejati turun dari hati dan merambat ke seluruh tubuh lewat jemari kasih para orangtua”
(Didaktika Hidup Kasih)
Sang Anak Turun dari Rahim Ibu
Anak adalah buah kasih dan buah hati dari kedua orangtuanya. Anakmu turun ke rahim Ibu bumi ini lewat rahim Ibundanya. Camkan juga, bahwa anak turun ke rahim Ibu bumi ini, bukan atas kehendaknya.
Di atas rahim Ibu bumi ini, anak akan hidup dan bertumbuh dalam pelukan dan kasih sayang kedua orangtuanya. Buah hati ini akan bertumbuh di dalam kehangatan kasih dari sebuah keluarga.
Anak dan Kehangatan Hidup
Anda dan saya akan sanggup membedakan, antara seorang anak yang bertumbuh di dalam kehangatan kasih dan seorang anak yang bertumbuh di dalam kesengsaraan, karena ketiadaan kasih sayang.
Baik secara fisik biologis maupun secara mental psikologis, akan tampak perbedaan itu. Anak yang bertumbuh di dalam kasih sayang itu akan tampak sangat gembira, memiliki sikap percaya diri, dan bersikap antusias. Sebaliknya, pandangilah wajah seorang anak yang bertumbuh dalam derita. Ia akan tampak sangat lusuh, minder, tidak percaya diri, dan sikapnya tertutup.
Dari dan di sana pula, Anda seolah sedang menyaksikan keberadaan dari dua buah dunia yang serba kontras keadaannya.
Kasih Turun dari Hati
Kasih sejati itu justru turun bagaikan kehangatan sinar mentari pagi dari hati Ibundanya, lalu ia akan meresapi seluruh diri dan kepribadian anak itu. Dari ujung jemari kesadaran Ibulah, anak itu akan menerima kehangatan kasih.
Pandangilah, tatkala seorang anak sedang menggenggam sangat erat jemari Ibu. Entah di saat ia dalam gendongan Ibu atau kala dia sedang dituntun untuk belajar berjalan. Itulah sebuah titik sentuh yang paling nyaman bagi anak. Di saat itu pula, sesungguhnya anak sedang menerima kehangatan dan aliran kasih dari hati Ibu. Maka, hendaklah Anda senantiasa memegang erat-erat jemari mungil sang buah hatimu itu.
Ia sedang Mencari Perhatian dan Kehangatan Kasih
Sebuah Ilustrasi Imajiner
Seorang anak berusia lima tahun (balita), yang ditinggalkan Ibu sejak ia baru dilahirkan, sedang berada di pendopo rumah Kakeknya. Ia sedang sibuk berbicara dengan dirinya sendiri (bermonolog).
Di hadapannya terdapat tiga buah batu kali yang berwarna kehitaman. Sambil berbicara, ia sibuk menempatkan batu-batu kecil itu. Ada yang ditempatkan di sebelah kanan dan ada yang di sebelah kiri. Batu yang terkecil itu justru ditempatkannya di bagian tengah, di antara kedua buah batu lainnya.
Di saat itu, sang Kakek spontan bertanya, “Batu-batu apaan itu, Cucuku?”
“Ini (dengan sambil menunjuk) Bapak dan ini Ibu. Sedang yang di tengah-tengah ini, aku.” (Sambil tersipu). Tak pelak, seketika itu, bola mata sang Kakek berkaca-kaca. Ia merasa terharu mendengar ulasan dari Cucunya.
(Anonim)
Makna yang Coba Ditebak
Bukankah di saat itu si balita justru sedang sangat merindukan kehadiran, kehangatan, dan kasih sayang? Secara imajiner dan kemampuan nalarnya yang masih seadanya, ia justru sedang menggambarkan sebuah idealisme hidup?
Ia justru mampu menempatkan dirinya sebagai seorang anak, yang tentu harus berada di antara kedua orangtuanya. Ia pun menempatkan dirinya untuk berada tepat di tengah-tengah. Karena pada posisi ini, bukankah anak pun akan menerima kehangatan secara lebih utuh? Ya, antara kasih Ibu dan sayang sang Ayah, bukan?
Pribadi yang Terbelah
Sebuah keutuhan dalam kepribadian dan jati diri sejati sang anak, bukankah hanya lahir dari perpaduan paling ideal, antara kehangatan pelukan Ibu dan keperkasaan rangkulan Ayah?
Tatkala kehangatan itu ternyata hanyalah sebuah kehampaaan, maka hambarlah kisah kasih dari kehidupan seorang anak. Anak yang bertumbuh secara tidak seimbang ini, tak mustahil akan bertumbuh sebagai sesosok pribadi yang terbelah. Pribadi yang tidak utuh.
Refleksi
- Maka, sungguh disayangkan, karena anak itu akan bertumbuh laksana seekor elang Rajawali yang tak mampu bersayap.
- Ia pun ibarat kerakap di atas batu, hidup enggan, mati pun tak mau.
“Bukankah secarik selimut kehangatan, justru hanya didapat dari sebuah dapur keutuhan?”
Kediri, 8 Desember 2025

