Beruntung sekali kita ini ya, hidup dengan tuntunan agama yang menekankan sikap asih, kelembutan, dan kesantunan. Betapa tidak!
Jika kita tengok di jagad medsos, seolah tidak ada hentinya dan entek amek kurang golek dalam istilah Jawa. Tiap hari seperti tidak lelah dengan serang menyerang kata nyinyir dan fitnah, menambah derita dan sengsara, dengan melakukan permusuhan internal antar-anak bangsa. Saling cela dan memfitnah jadi kontes tanpa akhir.
Melaknat dan membuka aib sesama laksana rantai balas dendam tanpa akhir, tanpa rasa risih atau sungkan dengan slogan “pembalasan itu harus lebih kejam.”
Kita ini sangat beruntung memiliki Guru Agung yang sepanjang hidup-Nya adalah wujud nyata ajaran-Nya: “Jika orang lain menampar pipi kirimu, kasihlah yang kanan,” artinya… no revenge, api tak akan mati dengan api.
Guru Agung kita tak henti mengajak murid-murid-Nya menolak kekerasan dan menggantinya dengan kelembutan dan kesantunan. Dua kata yang memiliki kekuatan sangat dahsyat. Kita memilih Novena sebagai ganti demonstrasi menuntuk hak. Memilih silaturahmi sebagai ganti tuntutan.
Kelembutan hati dan kesantunan kata serta perbuatan seperti sinar laser yang menembus kulit. Kelembutan dan kesantunan dapat meluruhkan hati yang beku tanpa menyakiti dan mencerahkan pikiran yang bebal tanpa menghakimi.
Kelembutan hati dan kesantunan, keduanya, juga memperbaiki sikap dan perbuatan tanpa memaksakan, bagaikan sinar laser meluruhkan batu ginjal atau empedu tanpa merusak kulit sehat yang dilaluinya. Kekuatan keduanya sanggup menembus relung jiwa yang paling dalam, sehingga dapat mengubah sesuatu yang awalnya mustahil jadi mungkin.
“Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat (Dan kamu tidak membalas) Kamulah yang empunya Kerajaan Surga” (Mat 5: 1-12).
Salam sehat.
Jlitheng

