“Siapkanlah hatimu, sebab Sang Raja sudah dekat.”
Sabda Tuhan menghadirkan bagi kami gambaran yang jelas dan penuh harapan tentang Raja yang akan datang dan Kerajaan yang ingin dibangun-Nya.
Di padang gurun Yudea, Yohanes Pembaptis tiba-tiba muncul. Sosok yang mengejutkan, pakaiannya kasar dan pesannya itu membakar hati. Perkataannya itu bukan hal baru, melainkan ia menggemakan seruan kuno Nabi Yesaya:
“Persiapkanlah jalan bagi Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”
Yohanes mengumumkan kedatangan sebuah Kerajaan yang tidak dibangun oleh kekuatan manusia, tapi hadir melalui tindakan Allah yang menentukan.
Untuk mengenal Raja yang jalannya disiapkan oleh Yohanes, kita menoleh kepada Yesaya 11 yang nubuatnya luar biasa indah. Dari tunggul yang seakan mati, dari garis keturunan Isai, akan muncul Tunas baru. Ia akan dipenuhi Roh Tuhan dengan segala kelimpahannya: “kebijaksanaan, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengetahuan, kesalehan, dan takut akan Tuhan.”
Raja ini menghakimi dengan keadilan sempurna. Ia membela kaum kecil, melindungi yang tidak berdaya, dan menembus segala penampilan luar, rumor, dan hiruk pikuk opini publik. Di bawah pemerintahannya, bahkan mereka yang selama ini bermusuhan akan dapat hidup berdampingan dalam damai: serigala tinggal bersama domba, macan tutul berbaring di samping anak kambing, dan singa akan makan jerami seperti lembu.
Semua ini menggambarkan kedamaian mendalam yang dibawa Sang Mesias: pemulihan, keselarasan, dan hidup baru. Pemerintahannya akan menjangkau “dari laut ke laut,” nama-Nya akan dipuji untuk selama-lamanya.
Yesaya juga menubuatkan, bahwa Raja ini akan jadi tanda bagi segala bangsa. Semua suku akan mencari-Nya dan menemukan berkat di dalam Dia. Janji kepada Abraham, yang diteguhkan kembali dalam mazmur dan sumpah kepada Daud itu mencapai kepenuhannya dalam Kristus.
Rasul Paulus menegaskan hal ini: dalam Yesus, Allah menggenapi janji-Nya. Janji itu kini terbuka bagi semua. Mereka yang dahulu jauh, kini didekatkan oleh belas kasihan-Nya. Mereka yang dulu ‘bukan umat’, kini disatukan dalam janji yang kokoh.
Pesan yang sama disampaikan Yohanes dalam Injil. Allah sedang membangkitkan umat yang baru: anak-anak Abraham bukan karena darah dan keturunan, melainkan karena pertobatan dan karya Roh. Tidak cukup hanya berkata “aku beriman”; pertobatan yang sejati pasti menghasilkan buah.
Teguran Yohanes kepada orang Farisi dan Saduki mengingatkan kita: Iman yang benar selalu tampak dalam hidup yang berubah.
Bapa, dalam masa Adven ini, ajarlah kami, bahwa Raja yang datang tidak mencari kata-kata indah, tapi hati yang siap dibentuk. Seperti Yohanes memperingatkan mereka yang hanya mengejar penampilan luar, kami pun Engkau undang untuk membuka diri agar Roh-Mu membarui hidup kami, supaya kami menghasilkan buah yang pantas bagi Kerajaan Surga.
Tuhan, saat kami menantikan kedatangan-Mu, tolong kami mempersiapkannya bukan dengan ketakutan, melainkan dengan kerinduan untuk hidup dalam keadilan-Mu, menyalurkan belas kasih-Mu, dan menciptakan ruang bagi damai-Mu dalam keluarga, komunitas, dan relasi kami.
“Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat.” Biarlah seruan ini membangunkan hati kami.
Yesus, ajarilah kami menyambut-Mu dengan hati yang murni, diperbarui, dan siap bagiMu. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

