Tersebutlah di sebuah desa, ada seorang pemuda yang terkenal penyabar hidup bersama kudanya. Tapi orang-orang desa itu memanggilnya si Bodoh. Sedang pemuda yang dijuluki Bodoh itu tidak marah, sebaliknya ia berkata pada diri sendiri, “Sabar satu kali, hilang satu masalah.”
Kisah pemuda yang terkenal sabar itu sampai ke telinga Raja. Karena tertarik dengan kesabaran pemuda itu, Raja ingin mengujinya. Raja lalu memanggil prajurit untuk merampok rumahnya. Raja ingin mengetahui reaksi pemuda itu, apabila kuda yang merupakan harta kesayangannya itu dicuri.
Pagi hari, saat pemuda itu bangun dan ingin memberi makan kuda kesayangannya, ia mendapati kudanya hilang. Bukan kemarahan atau kesedihan yang dikeluarkan, ia malah berkata,”Semoga si pencuri kuda bisa mendapat manfaat dari kudaku ini, sehingga mengurangi masalah yang dihadapinya.”
Raja yang mengetahui reaksi dari pemuda nan sabar itu, hatinya jadi tergugah. Ia memerintahkan prajurit itu untuk segera menjemputnya dan pemuda itu dijadikan pejabat kerajaan.
Bicara tentang kesabaran itu tidak lepas dari reaksi kita terhadap suatu hal. Ketika seseorang itu ditegur atau dikritik, kebanyakan orang akan langsung bereaksi, marah, kecewa, kesal, dan ganti membalasnya. Sebaliknya orang yang sabar itu memilih untuk diam. Meskipun mungkin ia memiliki kekesalan yang sama, tapi ia tidak melampiaskan emosinya pada saat itu juga. Ia diam, tenang, dan menggunakan akal sehatnya untuk berpikir positif, untuk melihat kritik itu sebagai hal yang membangun. Hasilnya adalah pasti jauh berbeda dari sikap orang mengkritik itu.
Fulton J. Sheen berkata, bahwa kesabaran adalah energi. Sabar itu bukan berarti tidak berbuat, tapi menunggu saat yang tepat untuk bertindak, dengan prinsip yang benar dan dengan cara yg benar.
Kesabaran itu mutlak harus dimiliki, karena dibutuhkan untuk jadi pemenang. Bukan didasari oleh kemampuan yang hebat untuk beraksi, melainkan kekuatan untuk diam dan menunggu saat yang tepat…!
Samudra kesabaran itu menyeret dan menenggelamkan orang-orang yang sombong!
NN

