“Jangan melarang dan menakut-nakuti anak, lebih bijak ditunjukkan hal yang baik dan benar agar anak memahaminya.” -Mas Redjo
Ketika kecil, kita sering ditakut-takuti orangtua. Kita dilarang untuk melakukan ini-itu, karena tidak elok atau berbahaya. Kita dilarang ke luar rumah malam hari, karena banyak setan, atau agar tidak diculik orang jahat, dan seterusnya.
Disadari dan diakui, atau tidak, ketika orangtua menakut-nakuti itu umumnya anak itu jadi cengeng, penakut, tertekan, dan stres.
Alangkah elok dan bijak, sebagai orangtua itu tidak membiasakan untuk menakut-nakuti anak. Tapi dijelaskan alasannya melarang sesuatu itu sesuai umur dan nalar anak agar mudah dipahami.
Bagi saya pribadi, menakut-nakuti anak itu kuno dan tidak mendidik. Tapi anak diberi penjelasan secara gamblang agar mudah dipahami. Anak jadi percaya diri, mandiri, dan berhati-hati dalam melakukan aktivitasnya.
Misalnya, anak ke luar malam hari itu tujuannya ke mana, untuk apa, dan pulang jam berapa? Kejelasan ini dimaksudkan agar kita mudah mendeteksinya, mengetahui teman- temannya, dan anak belajar untuk disiplin waktu.
Dengan memberi pengertian pada anak, saya mengajar mereka untuk percaya diri, bertanggung jawab, dan mandiri.
Jangan Takut!
Jika ada sebahagian masyarakat suka menakut-nakuti anak, saya sebaliknya, yaitu mengajar anak untuk berani, karena benar. Juga agar anak tidak ragu, berkecil hati, dan dihantui bayangannya sendiri, ketika menghadapi suatu persoalan yang berat dan sulit. Tapi agar anak mampu melihat dengan jernih untuk menyelesaikannya dengan baik.
Mantra: “Jangan takut!” yang jadi andalan saya itu terinspirasi dari seruan Santo Yohanes Paulus II
yang paling sering menyuarakan tema itu. Bahkan, menurut Uskup Agung Fulton Sheen yang pernah menghitung kata “Jangan takut” di dalam Kitab Suci, konon jumlahnya adalah 365 kali. Tentu hal ini bukan suatu kebetulan, tapi Tuhan mengingatkan kita setiap hari dalam setahun agar jangan takut, gelisah, dan khawatir.
Pesan yang selalu relevan dan pas dengan keadaan kita saat ini. Ketika kita menghadapi tantangan, kesulitan, atau bencana itu agar kita tidak memisahkan diri dari kasih Kristus. Tapi untuk berpegang dan mengandalkan-Nya, yang adalah “Jalan, Kebenaran dan Hidup.” Dijamin kita selamat dan bahagia.
“Janganlah gelisah hatimu. Percayalah kepada Allah, dan percayalah juga kepada-Ku” (Yohanes 14: 1).
Tuhan memberkati.
Mas Redjo

