“Bukan belajar dari kesalahan. Melainkan yang tepat itu belajar dari pengalaman yang adalah Guru terbaik.” –Mas Redjo
Pengalaman itu yang memotivasi saya, bahwa hidup ini untuk belajar dan terus belajar memperbarui diri: hidup harus makin baik demi masa depan nan cerah.
Saya sadar, karena berpendidikan tidak tinggi, saya menambah ilmu dengan membaca banyak buku, khususnya yang berkaitan dengan rohani dan filsafat. Biasanya saya nongkrong di perpustakaan. Jika mendapat honorarium saya lalu membeli buku di tempat loak yang murah meriah.
Dengan membaca banyak buku, saya ibarat katak yang ke luar dari balik tempurung untuk melihat ‘dunia baru’ guna memperbaiki nasib sendiri.
“Kehidupan anak itu harus lebih baik daripada orangtuanya,” tegas Bapak selalu menyemangati anak-anaknya.
Anak-anaknya mengamini. Saya terinspirasi dan termotivasi untuk mewujudnyatakan keinginan dan harapan orangtua. Karena tujuan yang sesungguhnya adalah untuk memperbaiki kehidupan generasi ke generasi berikutnya. Ke anak cucu, cicit, dan seterusnya yang lebih baik.
Pengalaman Bapak mengajarkan, jika Bapak bekerja mengandalkan phisik alias tenaga, saya dituntut untuk berpikir cerdas. Berkreasi dan inovatif agar makin produktif.
Bapak berbisnis sekadar menunggu pelanggan, saya menjemput bola, alias mendatangi pelanggan. Saya jadi ‘hunter’. Mencari dan menjalin relasi dengan hati serta membina hubungan itu dengan baik dan terus menggurita.
Begitu pula dengan cara promosi: semula dari mulut ke mulut, brosur, iklan, dan seterusnya itu beralih ke jaringan komunitas, sosmed, dan digitalisasi.
Dengan belajar dan terus belajar itu saya melihat dunia yang senantiasa baru dan indah menawan.
Dengan selalu beradaptasi untuk menghadapi tantangan zaman, saya melangkah pasti menuju hidup damai sejahtera dan bahagia.
Mengelola hidup dengan baik itu untuk memberi dan berbagi murah hati. Hidup yang berkenan bagi Tuhan!
Mas Redjo

