“Di dalam Tuhan saja kita temukan kota yang kuat, temboknya tidak dibangun oleh tangan manusia, tapi oleh iman yang teguh selama-lamanya.”
Sabda Tuhan melalui Yesaya membuka gerbang sebuah kota yang kuat, yang temboknya disebut keselamatan dan fondasinya adalah kepercayaan kepada Tuhan untuk selama-lamanya. Pemazmur menggemakannya: “Lebih baik berlindung kepada Tuhan daripada percaya kepada para bangsawan.”
Ayat-ayat ini bukan sekadar puisi; melainkan cetak biru bagi hidup yang berakar kuat dalam Tuhan. Ia memanggil kami bukan untuk mengagumi kekuatan keselamatan-Mu, melainkan untuk memasukinya, berjalan di dalamnya, dan membangun seluruh hidup kami di atas kebenaran yang tidak tergoyahkan ini: “Hanya hati yang berakar dalam Tuhan yang dapat bertahan menghadapi segala badai.
Dalam Injil, Yesus membawa penglihatan ini pada kepenuhannya. Ia menunjukkan, bahwa iman yang benar bukan hanya berseru “Tuhan, Tuhan,” melainkan menjadikan Sabda Tuhan sebagai dasar hidup kita. Sang Batu Karang yang tidak dapat dihancurkan oleh hujan, banjir, atau pun angin badai.
Badai datang kepada setiap orang, baik yang setia maupun yang tidak setia. Pencobaan tidak melewati rumah yang didirikan di atas Batu Karang. Tapi yang menentukan itu bukan seberapa dahsyat badai itu, melainkan seberapa kokoh fondasinya.
Ya, Bapa, tolonglah kami untuk melihat: Di manakah sebenarnya kami berdiri? Di atas apa kami membangun keputusan, keinginan, nilai, dan jati diri kami? Apakah di atas Batu Karang Sabda-Mu, atau di atas ‘pasir’ kesenangan, kekuasaan, kekayaan, atau kebergantungan pada diri sendiri?
Hati yang adalah pusat terdalam keberadaan kami, tempat perjumpaan antara Engkau dan kami. Izinkan kami berakar, ya Bapa, di tempat itu. Sabda-Mu turun melampaui bibir dan masuk ke dalam hati serta jiwa kami. Sabda-Mu membentuk cara kami berpikir, berbicara, memilih, dan mengasihi.
Bapa berilah kami rahmat yang bukan hanya untuk mendengar, melainkan juga melakukan kehendak-Mu. Berilah kami iman yang jadi terang dalam kegelapan,
Kepercayaan yang jadi kekuatan dalam kelemahan, dan ketaatan yang menjadi jalan keselamatan kami.
“Tuhan Yesus, semoga Sabda-Mu jadi Batu Karang tempat kami berdiri untuk selama-lamanya. Amin.”
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

