“Kau tidak korupsi ta, Le?!”
Pertanyaan Bapak yang tanpa tedeng aling-aling itu tidak hanya memerahkan telinga, tapi sekaligus menggedor nuraniku.
“Mboten, Pak,” sahut saya takzim.
“Syukurlah, kau tidak membuat malu keluarga,” Bapak tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu saya.
Pengalaman, ketika menempati rumah baru itu saya bagikan pada anak-anak sebagai pengingat agar selalu membiasakan bersikap jujur dan transparan dengan keluarga.
Bapak menanyakan kejujuran saya, karena ia peduli dan memahami pekerjaan saya. Membangun rumah itu membutuhkan biaya besar. Saya karyawan biasa, tidak mempunyai jabatan. Dari mana memperoleh uang untuk membangun rumah?
Bapak selalu mengingatkan anak-anaknya, karena kejujuran adalah fondasi dan modal utama untuk membangun kepercayaan dengan orang lain. Rezeki yang diperoleh secara jujur itu berkah dan nikmat.
Ketika dipercaya orang agar tidak disalahgunakan, karena kita silau materi. Sehingga menjual martabat keluarga dan itu aib yang sulit untuk dicuci.
Termotivasi ingin mempunyai rumah sendiri, ketimbang jadi kontraktor (pengontrak, selalu pindah rumah) saya lalu jualan online; menjualkan barang orang lain. Selain minim resiko, dan yang penting ada selisih harga; untung itu untuk ditabung.
Ternyata, dari hasil calo online itu melebihi gaji bulanan saya. Hal itu memacu saya makin semangat dan getol mengumpulkan uang untuk masa depan.
“Untuk sukses itu kita harus berani ke luar dari zona nyaman,” nasihat BW memotivasi saya agar tidak selamanya jadi pekerja, tapi kelak harus mempunyai usaha sendiri!
Dari hasil menabung sebagai calo online itu saya membangun rumah yang ditanyakan Bapak. Bukan dari hasil korupsi atau berbuat curang, melainkan atas nama cinta saya membangun rumah sederhana.
Pilar-pilar rumah cinta saya adalah kejujuran dan kepercayaan untuk jadi penyangga kesetiaan hidup berumah tangga. Karena orang yang jujur dan benar itu dikasihi Allah!
Mas Redjo

