oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Red-Joss.com – … “kesetiaan
itu, menghidupkan”…
Pernahkan Saudara memelihara ternak piaraan, seperti, ayam, kambing, kucing, burung, atau pun anjing?
Tentu, Saudara pernah memiliki kenangan khusus terhadap ternak piaraan itu.
Mungkin, Anda merasa gemas oleh pola tingkahnya yang lincah, atau pun terharu oleh kesabarannya, atau bersemangat oleh siulan merdunya, merasa dekat dan bersahabat karena kebasan ekornya, atau pun…
Ada sebuah pengalaman personal yang sangat memikat hatiku, hingga saya menurunkan tulisan ini, ialah atas dasar keterharuan saya pada seekor induk ayam yang sangat setia mengerami telur-telurnya.
Hampir sebulan, saya mulai memelihara lima belas ekor ayam. Pada awalnya, terasa biasa, lazimnya orang berternak.
Namun Saudara, lambat laun, saya mulai terperanjat mencermati, ternyata, betapa setia tindakan sang induk ayam yang sedang mengerami telur-telurnya.
Dalam sehari, ayam-ayam itu dijatahi pakan tiga kali sehari, pagi, siang, dan petang hari.
Setiap kali saya tiba di kandang, tampak jelas, saat pakan diberikan, sang induk yang tengah mengerami itu, ternyata tidak tergiur untuk turun dan ikut berebut makanan.
Bahkan, pernah, ayam itu turun di saat makanan sudah dihabiskan oleh ayam-ayam lain.
Dan, setelah beberapa saat dia mengais-ngais tanah, ia pun tampak segera kembali ke kandang dan mulai mengerami lagi.
Kesetiaan itu, tentu dilandasi oleh naluri kebinatangannya. Suatu tindakan responsif yang menjadi bawaan alam secara naluriah.
Tulisan ini saya turunkan, semata-mata hendak menyoroti dari aspek kesetiaan tiada tara dari sang induk ayam itu.
Kesetiaan (fidelity), adalah bawaan alam sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Manusia dan hewan, misalnya, ternyata memiliki bawaan untuk bersikap setia.
Saudara, betapa beruntungnya sang manusia, seandainya dia sanggup melakoni sifat setia ini di dalam kehidupan real.
Dampak positifnya, betapa banyak orang dapat diselamatkan dari kesengsaraannya di atas bumi maya ini sebagai ekses dari tindakan setia sesamanya itu.
Santa Theresia,
Ordo Cinta kasih, alias
Bunda dari Kalkuta, India, adalah contoh nyata dari aktus “kesetiaan yang menghidupkan” itu.
Anda dan saya, kita ini, sebagai ciptaan termulia, yang pernah dan kini sedang sibuk menghuni bumi maya ini, ternyata dapat menghidupi banyak orang, andai kita sanggup memancarkan “sikap kesetiaan” itu.
“Jadilah setia seperti induk ayam itu!”
…
Kediri, 3 Februari 2023

