Kisah Injil menantang kita untuk merenungkan soal iman dan kerendahan hati. Seorang perwira Romawi mendekati Yesus dan meminta Dia menyembuhkan hambanya yang lumpuh dan sangat menderita.
Sebagai perwira, ia adalah seorang yang berkuasa dan berpengaruh. Tapi ia mengakui otoritas dan kekuasaan Yesus. Dia yakin, bahwa Yesus mampu menyembuhkan hambanya hanya dengan berkata-kata. Pengakuan akan kekuatan Ilahi Yesus ini adalah bukti dari imannya. Meskipun berada dalam posisi berkuasa, ia dengan rendah hati mengakui otoritas khusus yang dimiliki Yesus.
Kerendahan hati adalah unsur amat penting dalam iman, yakni mengakui ketergantungan kita pada belas kasih Allah. Seperti perwira itu, kita dipanggil untuk percaya pada kekuatan-Nya yang bisa menyembuhkan dan mengubah hidup kita. Kita dipanggil untuk menyerahkan hasrat mengontrol dan berkuasa, dan menyerahkan diri kepada otoritas Yesus, kepada kehendak dan tuntunan-Nya.
Setiap kali kita merayakan Ekaristi dan menyambut tubuh Tuhan, kita berdoa, “Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya, tapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh!” Semoga ungkapan iman dan kerendahan hati yang tampak dalam doa ini jadi pedoman dalam hidup harian kita agar selalu percaya akan kuasa Allah dan bergantung pada belas kasih-Nya.
“Tuhan, mampukanlah kami untuk selalu percaya pada kekuatan-Mu dan berserah pada belas kasih-Mu. Amin.”
Ziarah Batin

