“Berbahagialah mereka yang berjaga. Sebab Tuhan sudah dekat.”
Sabda Allah membawa kami masuk ke jantung masa Adven: masa penantian yang suci, berjaga, dan masa harapan yang rendah hati, tapi berani.
Seorang perwira Romawi datang kepada Yesus membawa permohonan untuk hambanya yang menderita. Permohonannya sederhana, tapi mengejutkan: “Tuan, katakan sepatah kata saja.” Ia berdiri di hadapan Yesus tanpa rasa berhak, tanpa sikap lebih tinggi, dan tanpa ilusi. Bahwa ia mampu mengendalikan segalanya. Ia tahu batas kuasanya, dan justru di batas itulah imannya bersinar.
Secara logis, permohonan perwira ini tampak mustahil: penyembuhan dari jauh itu tanpa sentuhan, pemeriksaan, dan tanpa bukti. Tapi ia berani percaya pada kuasa firman Kristus yang tak terbatas. Ia melangkah melampaui yang dapat dihitung atau dibuktikan. Karena itu ia jadi teladan iman yang membuat Yesus terpukau.
“Belum pernah Aku menjumpai iman sebesar ini di antara Israel.”
Bapa, Putra-Mu tidak menolak akal budi. Engkaulah yang memberi kami kemampuan berpikir. Namun Ia mengundang kami untuk membiarkan iman melampaui batas penalaran. Iman tidak menolak nalar; iman terbang lebih tinggi, percaya pada apa yang belum terlihat, bersandar pada Sabda yang mencipta, menyembuhkan, dan menyelamatkan.
Kebesaran iman perwira itu tidak terpisahkan dari kerendahan hatinya. Ia mengakui ketidaklayakannya di hadapan Yang Kudus. Ia tahu, bahwa tidak ada prestasi, moralitas pribadi, dan tidak ada jasa manusia yang dapat ‘membeli’ kasih karunia-Mu. Itulah sebabnya kami pun mengulang kata-katanya setiap kali bersiap menyambut Yesus dalam Ekaristi:
“Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang kepada saya, tapi bersabdalah sepatah saja, maka saya akan sembuh.”
Pada masa Adven ini, ajarlah kami mengucapkan kata-kata ini secara perlahan, tenang, dan dengan iman yang mendalam.
Melalui Yesaya yang menampilkan pengharapan yang indah: Tunas dari Tuhan mulia dan gemilang, menaungi umat-Mu dengan kemuliaan-Nya. Engkau menjanjikan perlindungan, naungan, dan keteduhan hati bagi mereka yang mencari wajah-Mu. Melalui Pemazmur, kami naik secara rohani ke Yerusalem sambil bersukacita, merindukan damai-Mu.
Semoga kerinduan Adven membuat kami makin rendah hati, untuk berjalan menuju hadirat-Mu, yang bersukacita dalam damai-Mu, dan yang mencari wajah-Mu dengan penuh pengharapan.
Bapa, berikanlah kepada kami iman seperti perwira itu: iman yang berani memohon, percaya pada waktu-Mu, dan yang rendah hati, tapi penuh keyakinan. Tolong kami mengenali Yesus dalam mereka yang meminta bantuan kami. Jadikan kami murah hati, cepat tanggap, dan penuh belas kasih, seperti Yesus yang selalu menjawab seruan setiap orang yang datang kepada-Nya.
Ketika Yesus datang: kapan pun Ia mengetuk pintu hati kami, semoga Ia menemukan kami berjaga dalam doa, bersukacita dalam pujian, dan rendah hati dalam iman.
Datanglah, Tuhan Yesus. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

