Saat kita duduk, berdiri, berjalan atau sedang berbaring itu untuk dipastikan, bahwa kita dalam kebahagiaan. Saat bekerja keras atau santai itu juga dipastikan, bahwa kita adalah pribadi yang bahagia. Juga pada saat sedang sendirian atau bersama dengan yang lain, pastikan pula, bahwa kebahagiaan demi kebahagiaan tidak jauh dari kita. Karena hidup bahagia itu mudah datang, dan tidak sulit dicari.
Bila saat ini, kebahagiaan itu hilang, jangan kaget. Mungkin, hal itu terjadi, karena kita tidak siap untuk menerima kebahagiaan itu dalam pikiran, hati, dan jiwa. Kebahagiaan itu seolah-olah sedang pergi menjauh. Lihat, kita hanya melihatnya pergi menjauh, dan sekarang yang tinggal di pikiran, hati, dan jiwa ini adalah ketidak-bahagiaan. Kok bisa? Pertanyaannya, apakah kita tetap bisa bahagia, saat kebahagiaan itu pergi?
Jawab adalah, jika kita tetap bisa mengolahnya, khususnya saat kita bahagia atau tidak bahagia, maka kita akan tetap bahagia Kok bisa? Sangat bisa! Sebab, kuncinya ada pada pembatinannya itu. Kebahagiaan itu tidak bisa diikat. Dia bebas pergi dan datang. Saat kita mempunyai sikap terbuka, saat bahagia itu datang atau pergi, di situlah hebatnya kita, yaitu tetap bisa bertahan di dua keadaan itu.
“The joy of Living: Welcome to Come, Welcome to Go.”
Saat kebahagiaan itu datang, kita mensyukurinya, dan saat kebahagiaan itu pergi, kita memberi kebebasan untuk pergi. Yang penting di sini, saat ini, sekarang ini, kita tetap bisa bertahan dan melanjutkan hidup kita.
Selalu mensyukuri hidup ini, dan bahagia
Rm. Petrus Santoso SCJ

