“Bangunlah! Sebab Terang Tuhan sedang terbit atas kita.”
Sabda Allah kembali mengajak kami untuk membuka mata dan berjaga. Injil menegaskan, bahwa persoalannya bukan kapan Yesus datang kembali, melainkan bagaimana kami hidup dalam masa penantian ini. Ketika Yesus berkata tidak seorang pun tahu hari dan saatnya, Ia sedang mengarahkan fokus kami: bukan pada jadwal, tapi pada ‘kesiapsediaan hati’. Sebab Ia pasti datang: tiba-tiba, diam-diam, seperti pencuri di malam hari, dan seperti air bah yang mengejutkan pada zaman Nuh.
Pada zaman Nuh, orang-orang hidup dalam rasa aman yang palsu. Bbukan karena mereka melakukan kejahatan besar, melainkan karena mereka begitu larut dalam rutinitas sehari-hari hingga tidak peka terhadap gerakan Roh-Nya. Mereka makan dan minum, kawin dan mengawinkan itu kegiatan manusiawi yang baik, tapi berhenti pada permukaan dan gagal menangkap undangan-Nya yang lebih dalam.
Ya, Allah, kami juga sering terjebak seperti itu: sibuk, dan tidak berjaga; berjalan, tetapi tanpa arah surgawi.
Melalui Rasul Paulus, Allah kembali berbisik: “Hari sudah jauh malam; fajar segera menyingsing.” Sebab, meski kami kadang duduk dalam kegelapan atau dinaungi bayang maut, Terang-Nya telah terbit: Kristus, Terang sejati, kehidupan bagi dunia. Cahaya ini terus bersinar dalam Gereja-Nya, Yerusalem baru yang dinubuatkan Nabi Yesaya.
Penglihatan Yesaya amat indah: segala bangsa datang berziarah ke gunung Tuhan, bukan karena paksaan, melainkan karena kerinduan: rindu belajar jalan-jalan-Nya, rindu hidup dalam damai-Nya. Saat Sabda-Nya memimpin, senjata itu berubah menjadi alat kehidupan. Pedang ditempa jadi mata bajak. Tombak jadi pisau pemangkas. Ketakutan berubah jadi buah-buah kebaikan. Konflik jadi karya yang menumbuhkan.
Ya, Bapa, saat kami memulai masa Adven ini, memang benar, bahwa hari sudah jauh malam. Tapi justru dalam keterlambatan inilah Engkau membuka kesempatan baru untuk memulai kembali. Melalui Pembaptisan, Engkau telah menjadikan kami anak-anak terang. Kini ajarlah kami berjalan sesuai identitas sejati kami: menanggalkan perbuatan kegelapan, menolak keinginan daging, dan mengenakan Kristus.
Bangunkan hati kami, ya Tuhan, agar peka terhadap gerakan lembut Roh Kudus. Jadikan kami berjaga tanpa ketakutan, siap tanpa kecemasan, bersukacita tanpa terlena. Jangan biarkan kami berasumsi, bahwa semuanya baik-baik saja, tapi tuntunlah kami untuk hidup waspada dan setia terhadap bisikan rahmat-Mu setiap hari.
Bapa, kami bersyukur untuk Putra-Mu. Kami berjaga menantikan kedatangan-Nya. Kami bersukacita, sebab kini keselamatan kami lebih dekat daripada saat pertama kami percaya.
Bersama para Kudus dan semua yang merindukan Kerajaan-Mu, kami mengangkat hati dan berdoa: “Datanglah, Tuhan Yesus. Datanglah.” Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

