“Segala kemungkinan, peristiwa yang terburuk itu bisa terjadi, agar kita siap sedia mengantisipasinya.” -Mas Redjo
Seorang sahabat, CI mengomel, meminta saya untuk tidak berpikir hal buruk dan pahit getir itu agar tidak jadi nyata, karena itu meracuni pikiran sendiri.
“Berpikirlah hal baik dan positif agar jadi kenyataan!” tandas CI. Saya tersenyum, mengiyakan, dan menyudahi obrolan ringan sore itu. Saya tidak melanjutkan masalah itu, karena menghargainya.
Berpikir hal baik dan positif itu meringankan hati. Tapi faktanya, hidup ini tidak selalu manis dan seindah bayangan. Apa jadinya, jika kita tidak bersiap-sedia dan siaga dengan hal buruk yang mungkin terjadi? Kita jadi gagap, termehek-mehek, dan bingung, karena tidak tahu harus bagaimana bersikap.
Saya ingat dengan nasihat bijak Ayah, “sebagai pelajar itu harus belajar, ada ulangan atau tidak.” Maksud dan tujuan Ayah, saya diminta selalu bersiap-sedia, jika sewaktu-waktu diadakan ulangan mendadak agar nilai saya tidak jeblok, tapi bagus.
Begitu pula dengan hidup ini. Saya dituntut selalu bersiap sedia dan siaga untuk ‘eling lan waspada’. Karena ujian hidup itu bisa datang tanpa tanda-tanda dan secara tiba-tiba.
Dengan berdoa dan berserah pada Allah, saya belajar ikhlas menjalani hidup ini untuk sabar, tabah, dan rendah hati.
Dengan berpikir jauh ke depan, termasuk hal buruk yang mungkin terjadi itu saya belajar mencari solusi, jalan ke luar yang terbaik untuk mengantisipasinya.
Dengan semangat rendah hati, saya mudah beradaptasi dalam menghadapi peristiwa buruk itu agar cepat bangkit kembali, perbaiki diri, dan jadi pemenangnya.
Selalu bersiap sedia dan siaga untuk ‘eling lan waspada’ agar kita rendah hati dan bijaksana.
Hidup dicerahkan!
Mas Redjo

