“Berdirilah teguh dan berjagalah: Kerajaan Putra Manusia lebih dekat dari yang kita kira.”
Sabda Allah mengarahkan hati kami pada misteri akhir segala sesuatu; bukan untuk menakutkan, melainkan untuk membangunkan.
Dalam Injil, Yesus mengajak kami berjaga menantikan kedatangan-Nya, namun Ia juga menyinggung saat kami masing-masing akan berdiri di hadapan-Nya pada akhir hidup kami. Pada hari itulah dunia kami berakhir.
Bagaimana kami menyiapkan diri?
Ya, Allah, budaya kami sering melarikan diri dari pertanyaan yang justru menentukan kekekalan kami. Aktivitas, hiburan, dan kesibukan dengan mudah membuat jiwa kami mati rasa. Tapi para kudus-Mu mengerti: Santo Benediktus meminta para biarawan untuk “selalu mengingat saat kematian,” bukan untuk putus asa, melainkan supaya mempunyai hati yang tetap jernih.
Setiap bentuk doa itu pada dasarnya adalah latihan menatap hal-hal kekal tanpa rasa takut.
Nabi Daniel mengingatkan kami, bahwa kerajaan dunia hanya sementara. Semua itu akan berlalu. Namun ia juga melihat Putra Manusia menerima kuasa dan kemuliaan yang kekal. Pemazmur mengajak seluruh ciptaan untuk memuji dan memuliakan nama-Mu. Yesus meneguhkan, bahwa pemenuhannya sudah di ambang pintu.
“Ya, Kristus telah datang dan Kristus akan datang kembali.”
Hidup Kristiani adalah hidup dalam penggenapan; sekaligus penantian.
Faktanya berjaga itu tak mudah. Hati mudah mengantuk. Kami mencari kenyamanan; larut dalam kesibukan atau distraksi tanpa sadar; kadang oleh dosa, kadang hanya oleh kebisingan, layar HP, dan pencarian diri yang tak pernah usai. Yesus mengingatkan kami agar hati tidak dibebani atau mabuk dengan urusan duniawi. Ketika jiwa ‘lengah’ – bahaya tidak lagi terlihat.
Tuhan, Engkau mengajar dengan gambaran sederhana: seorang Ibu menanti sembilan bulan sampai bayinya siap lahir; tidak ada yang boleh atau bisa memaksa proses itu. Begitu pula hidup rohani: kami juga harus menunggu dalam iman, bukan memaksa Kerajaan-Mu mengikuti jadwal kami.
Engkau bersabda, “Berjagalah senantiasa dan berdoalah, supaya kalian kuat … dan tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.”
Bapa, hidup ini adalah masa persiapan: untuk persahabatan kekal dengan-Mu dan menghadapi peperangan rohani yang nyata, mau kami sadari atau tidak. Segala yang menidurkan hati dan memberi rasa aman palsu itu harus kami jauhi. Kami bisa mabuk mencari pemuasan diri, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Mengingat saat kematian kami, ‘memento mori’ itu bukan sesuatu yang gelap. Melainkan kompas rohani, penuntun supaya hati kembali pada yang utama, membangunkan urgensi, dan membuka ruang bagi rahmat.
Tuhan Yesus, bangunkan kami dari setiap tidur rohani. Berikan kejernihan di saat kami teralihkan, semangat di saat kami malas, kerendahan hati di saat kami lalai.
Tajamkan mata iman kami untuk melihat baik ancaman maupun kesempatan hidup dalam rahmat.
Tetapkan dalam pandangan kami pada yang benar, dan ajarlah kami menghitung hari-hari hidup ini dengan hikmat, agar kami semakin bertumbuh dalam kasih.
Yesus, Engkaulah andalanku. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

