Sepanjang tahun kita menjemput pergantian musim alam: panas ke dingin dan dingin ke panas. Secara liturgis, tiga hari lagi kita menjemput tahun liturgi yang baru. Efek langsung dari menjemput ini ialah tindakan adaptasi, karena kita perlu seiring dengan musim yang baru. Jadi kita melakukan pembaharuan hidup kita.
Tuhan Yesus berbicara tentang datangnya Kerajaan Allah. Ia menyemangati kita untuk menangkap tanda-tandanya, lalu bersedia menyambutnya dan akhirnya membaharui diri kita. Bahkan ketika tanda-tanda itu mengungkapkan, bahwa yang kita jemput adalah sebuah akhirat, mau tidak mau kita mesti menjemput, karena yang datang ialah Tuhan sendiri. Kita perlu siap menerima Dia, dan kesiapan itu mengandung arti, kalau kita memulai pembaharuan dan selanjutnya hidup dalam bentuk yang baru.
Dalam berbagai tingkat kehidupan, mentalitas membuat rencana untuk kegiatan apa pun itu merupakan suatu kebutuhan yang konkret. Dari kegiatan sederhana, seperti ajakan makan malam di rumah teman hingga ke suatu perencanaan perusahaan multinasional atau reksa pastoral sebuah keuskupan, kehidupan dan kegiatan jadi lancar dan menyenangkan kalau semua itu direncanakan. Sebab jika tidak ada rencana, kegiatan apa pun itu akan kacau-balau. Misalnya, kita tidak pasti akan apa yang nanti dilakukan dan tak ada arah pasti yang hendak dituju.
Tanpa ada rencana, kita tidak tahu apa atau siapa yang dijemput. Kita juga tidak dapat menyesuaikan diri sebagai bentuk pembaharuan diri yang perlu kita lakukan. Hanya mereka yang mempunyai rencana itu dapat mengalami pengalaman indahnya menyambut Tuhan dan menikmati suka cita sebagai pribadi-pribadi yang baru.
Jika Tuhan datang menemui kita dalam perayaan Ekaristi, misalnya, rencana penyambutan itu mestinya sudah ada lebih awal. Sehingga pertemuan dalam perayaan Ekaristi itu jadi sebuah suka cita yang istimewa. Selanjutnya Ekaristi itu jadi terang untuk pembaharuan diri kita yang lebih baik.
Sebaliknya kalau tak ada persiapan sebelumnya, pertemuan dalam Ekaristi itu bakal diwarnai dengan situasi yang serba kekurangan: entah Tuhan dirasakan diam saja dan begitu jauh, entah kita yang terbawa malas, sehingga mengantuk, atau kita terpaksa menghadiri Ekaristi, karena pengaruh atau tekanan pihak lain, entah sekadar ikut ramai dan memanfaatkan satu hari libur.
Tuhan yang datang dalam perayaan Ekaristi, Dia yang sama juga datang pada berbagai kesempatan lain hidup ini. Hukumnya universal, yaitu Ia perlu disambut, karena Ia membawa oleh-oleh pembaharuan kehidupan kita.
Semoga kerinduan kami untuk berjumpa dengan Tuhan jadi kebutuhan jiwa, dan bukan saat kami mengalami kesulitan hidup. Penyertaan-Nya meneguhkan hati kami untuk hidup yang makin baik.
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

