Ketika makna jalan hidup ini sudah ditemukan, tidak ada hal lain yang dibutuhkan, kecuali Tuhan. Karena waktu bersama Tuhan itu selalu membahagiakan. Dengan membaca buku rohani, berdoa, bermeditasi, Adorasi, dan Ekaristi Kudus itu jadi momen yang dirindukan.
Bagaimana dengan kita? Tergantung dengan ‘kepentingan’. Ketika ada kepentingan, kita hadir dan ada! Ketika kepentingan itu tidak didapatkan, kita tidak ada. Kita mudah berubah, karena berbagai kepentingan itu. Jalan yang diambil: Tidak usah terlalu berharap pada manusia. Oleh manusia, kita mudah diingat dan dilupakan, tergantung kepentingannya.
Menghayati jalan ketenangan adalah proses untuk mencapai titik ‘have faith’ – Iman yang kokoh, sepenuh hati, dan pikiran jernih. Dalam proses ini, jadi diri sendiri yang utuh itu sudah dimulai sejak bersatunya “sperma dan sel telur” dalam rahim seorang Ibu. Hal itu disebut, diciptakannya manusia oleh Tuhan jadi secitra dan segambar dengan-Nya.
Pencarian diri menuju keutuhan itu dijalani lewat panggilan masing-masing yang sudah dipilihnya. Di proses inilah, perjalanan manusia menuju keutuhan benar-benar diuji, karena ada banyak pilihan yang harus diambil.
Apakah setiap pribadi sampai pada keutuhan diri? Yang bisa menilai itu adalah diri sendiri: Apakah aku sudah tenang dan bahagia? Atau aku masih dalam pencarian yang belum selesai, karena hidup di dunia juga belum selesai?
Jika kita sudah sampai pada keutuhan seperti yang di atas: “Have faith, full heart, and clear mind,” proses yang masih berjalan di dunia ini jadi proses kematangan dan kedewasaan hidup.
Tujuannya jelas: melihat kehidupan manusia, bukan lagi karena kepentingan, melainkan memberikan ‘berkat, kontribusi’ bagi keutuhan ciptaan yang lain: alam dan makhluk hidup yang lain.
Dalam gerak nafas Pemazmur berseru: “Biarlah segala yang bernafas memuji Tuhan! Halleluya!” (Mazmur 150: 6).
Kita yang masih bernafas hingga saat ini, dengan mantap berjalan dalam ketenangan sambil berseru: Halleluya! Amin.
Rm Petrus Santoso SCJ

