Kitab Daniel pada hari ini menggambarkan Raja Belsasar dan para tamunya yang sedang berpesta tampak ketakutan luar biasa. Mereka melihat sabda Tuhan yang diungkapkan sebegitu provokatif, yaitu penglihatan sebuah tangan misterius sedang menulis firman Tuhan di dinding (Daniel 5,5 dst). Raja itu sangat ingin tahu makna kata-kata di dinding. Ia lalu meminta pemuda Daniel yang orang Yahudi itu untuk menjelaskannya.
Tuhan juga menulis aneka macam sabda-Nya di dunia ini melalui tulisan-tulisan para utusan-Nya. Mereka telah menulis sabda Tuhan pada gulungan-gulungan berbahan kulit dan daun kayu, yang kemudian dibaharui jadi kitab suci.
Sabda Tuhan dalam proses penulisannya itu ditulis dengan cara luar biasa, bahkan agak provokatif. Firman itu hidup dalam diri orang-orang yang percaya, ketika mereka mendengarkan sabda dengan sangat baik dan setia, lalu mewartakannya.
Berbeda suasananya dengan tulisan firman Tuhan pada dinding yang dibaca Raja Belsasar, kita memiliki kitab suci di ruangan atau di atas meja kita. Kitab Suci itu telah menghuni tempatnya di sana sekian waktu tertentu. Kita sering tidak menyadari kapan kita suci itu ditulis, penulisannya bagaimana, berapa lama menulisnya dan siapa saja yang menulis.
Pertanyaan yang lebih serius dan mendalam adalah tentang isi dan makna kitab suci persisnya seperti apa. Karena banyak dari kita kurang membaca, maka kurang juga memahaminya.
Kalau memang pernah atau suka membaca, seseorang dapat menemukan sejumlah pesan yang ada di dalamnya. Jika memang ada begitu banyak yang tidak dipahami, itu adalah pengalaman umum. Dari situ datang rasa ingin tahu. Jika orang tidak pernah atau tidak suka membacanya, tentu rasa ingin tahu tidak ada juga.
Raja memberikan contoh, yaitu bahwa kita memang perlu mempunyai rasa ingin tahu dan bertanya tentang firman Tuhan. Para murid dan rasul Yesus juga selalu bertanya kepada Sang Guru, isi dan makna firman Tuhan. Pada hari-hari ini, mereka bertanya tentang akhir zaman dan mereka memperoleh jawaban yang tegas dan pasti dari Yesus.
Jawaban Yesus lebih tegas lagi, yaitu harga akhir zaman bagi para pengikut amat mahal. Harga itu berupa pengorbanan diri dengan rela untuk mengikuti teladan sang Guru agung Yesus Kristus. Sehelai rambut juga harganya sama dengan seluruh diri kita masing-masing. Seluruh diri itu begitu mahal dan penting untuk diselamatkan. Melalui semua bentuk kesulitan, penderitaan dan penganiayaan, setiap bagian dan seluruh diri kita ditakdirkan untuk selamat.
Miliki rasa ingin tahu akan setiap firman Tuhan dan kehendak-Nya agar kita diselamatkan-Nya.
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

