“Menanggapi nyinyiran orang itu tiada selesainya. Tapi pribadi yang rendah hati dan bijaksana itu membebaskan diri dari konflik.” -Mas Redjo
Melalui jalan sunyi dengan bekerja dan bekerja itu saya menanggapi nyinyiran orang yang meremehkan dan merendahkan saya. Tidak membalas dengan cacian, tapi lewat perilaku baik dan karya nyata!
Saya sadar-sesadarnya, bahwa konflik dan kegaduhan itu sumbernya dari si jahat. Lalu apa yang harus saya lakukan, jika mereka menginjak-injak martabat keluarga?
Saya diam merenungkan nasihat Guru Agung: untuk membebaskan diri dari prasangka buruk itu dengan cara berpikir hal-hal baik dan positif serta memperbaiki yang jelek, karena hidup ini berhikmat.
Tiba-tiba terlintas dalam pikiran ini dengan pengalaman teman. Ia kaya raya, tapi ditengarai dibantu dukun, memiara tuyul, babi ngepet, dan seterusnya. Padahal ia tipe pekerja keras yang menjadikan kepalanya sebagai kaki. Ia juga dermawan, dan tidak suka gembar gembor. Ia tidak memusingi nyinyiran orang. Prinsipnya adalah, “Allah melihat hati dan kebenaran!”
Sedang hal yang membuat saya risau dan sedih adalah, meski sudah tidak menjabat lagi sebagai Lurah Antah Berantah, orang-orang yang iri benci dan nyinyiran itu juga mengusik dan memusuhi keluarga saya.
Padahal saya menolak tegas ‘tanah bengkok’ yang diberikan pada saya sebagai bentuk penghargaan purna tugas itu untuk diolah guna jaminan hari tua. Karena saya mempunyai tanah warisan dari orangtua. Anak-anak juga sudah mandiri, mapan, dan tidak tahu menahu soal itu. Tapi konyolnya dipolitisasi demi gosip murahan.
Semakin konyol dan menjengkelkan lagi, para pembenci dan tukang nyinyir itu meniupkan konflik, bahwa saya telah memalsukan kepemilikan sertifikat tanah orang lain. Sehingga kegaduhan itu makin meluas ke desa-desa tetangga.
Tidak tahan konflik itu berlarut-larut dan makin memanjang, saya lalu memutuskan untuk konsferensi pers dengan mendatangkan para juru warta. Karena kebenaran itu harus dibuka dan diungkap.
Berdiam diri tanpa kejelasan palsu tidaknya sertifikat tanah itu makin gaduh dan menyesakkan dada.
Tanpa harus saling mengadili atau menyakiti, tapi agar semua itu jadi jelas dan gamblang untuk diambil hikmahnya. Semua itu sebagai pembelajaran yang makin mendewasakan kita. Semoga!
Mas Redjo

