“Mereka yang percaya kepada Tuhan bersinar dengan iman yang tidak surut oleh api dan tak dapat diredupi oleh kemiskinan.”
Sabda Allah mengajak kami kembali belajar arti percaya dan kuasa dari hati yang sepenuhnya milik-Nya.
Dalam kitab Daniel, kami melihat para pemuda yang dibuang ke negeri asing; jauh dari rumah, kehilangan rasa aman, tanpa kuasa di hadapan raja dunia. Tapi mereka memilih tetap setia. Mereka berketetapan untuk tidak menajiskan diri, percaya, bahwa perkenan-Nya jauh lebih berharga daripada kenyamanan, penerimaan, atau perlindungan manusia. Allah membuat iman mereka bersinar lebih terang daripada segala hikmat dunia.
Dari perapian yang menyala naik pula kidung pujian:
“Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah nenek moyang kami.”
Ini adalah pujian dari mereka yang mengalami, bahwa kerahiman-Nya menopang, bahkan di tengah api. Mereka yang menemukan, bahwa ketika mereka menyerahkan diri kepada-Nya, Ia masuk bersama mereka ke dalam perapian kehidupan.
Tuhan, ajari kami kepercayaan seperti ini.
Dalam Injil, Yesus menunjuk kepada seorang janda yang diam, biasa, tak diperhatikan, tapi sepenuhnya dilihat Surga. Ia memberi bukan dari kelimpahannya. melainkan memberi dari kekurangannya. Ia percayakan kemiskinannya ke dalam tangan-Nya, dan dalam keterbatasannya Ia melihat keluhuran.
Ya, Allah tolong kami menyadari, bahwa percaya dan bermurah hati selalu berjalan bersama. Ketika percaya akan kerahiman-Mu, kami jadi pribadi yang berbelas kasih. Ketika mengenal kesetiaan-Mu, kami berani mempersembahkan hidup. Ketika kami tahu Engkau menyertai dalam setiap api hidup, tidak ada lagi persembahan yang terasa terlalu kecil atau terlalu sulit.
Ajari kami memberi dari hati: bukan hanya uang, waktu, atau hanya tenaga, melainkan persembahan diri yang lahir dari cinta.
Semoga setiap tindakan pekerjaan, kesabaran, pengorbanan yang tersembunyi, dan pengampunan yang diam-diam, kami jadi seperti persembahan janda miskin itu: mungkin kecil di mata dunia, tapi mulia di hadapan-Mu, karena lahir dari iman dan kepercayaan yang penuh harapan.
Ya, Roh Kudus, bebaskan kami dari ketakutan akan kekurangan. Bebaskan kami dari kebiasaan menahan diri. Bebaskan kami dari pikiran, bahwa persembahan kami terlalu kecil untuk berarti. Biarlah keyakinan kami hanya pada Allah yang melihat, menyediakan, dan yang menyertai umat-Nya dalam setiap perapian hidup.
Bapa, jadikan hidup kami sebuah kidung seperti Kidung Daniel:
pujian yang tetap naik di tengah ujian, kepercayaan yang bertumbuh di tengah kekurangan, dan belas kasih yang mengalir dari hati yang ditopang oleh kerahiman-Mu.
Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

