“Lihatlah Sang Raja yang tidak menyelamatkan diri-Nya, tetapi menyelamatkan kita.”
Allah mengajar kami memandang Kristus Raja: Raja yang bertakhta bukan di kursi emas, melainkan di kayu salib. Bentuklah hati kami agar mampu mengenali kemuliaan-Nya yang tersembunyi dalam kerendahan dan pengorbanan.
Bangsa Israel datang kepada Daud dan berkata, “Kami ini daging-Mu dan tulang-Mu.” Ini adalah sebuah perjanjian, sebuah penyerahan diri rakyat kepada Rajanya.
Allah menunjukkan sesuatu yang jauh lebih besar: Putra-Nya mengambil tulang dan daging yang sama dengan kami, agar melalui Dialah kami jadi satu tubuh: Gereja yang hidup dalam Perjanjian Baru, dimeteraikan dalam darah-Nya. Tapi dalam Injil, Raja ini tampak terpaku di kayu salib.
Pemimpin agama, para prajurit, bahkan seorang penjahat menghina Dia dan mengulangi godaan lama: “Jika Engkau benar Mesias… jika Engkau Raja… selamatkan diri-Mu!” Tapi Yesus tidak datang untuk menyelamatkan diri-Nya. Ia datang untuk menyelamatkan mereka dan menyelamatkan kami.
Di tengah ejekan, hanya satu suara yang melihat kebenaran: sang penjahat yang baik. Ia mengakui dosanya, menerima keadilan atas perbuatannya, dan dengan kerendahan hati berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.”
Inilah hati yang menggerakkan Sang Raja. Hati yang sadar akan dosanya, namun tetap berani berharap pada belas kasih.
Yesus menjawabnya dengan wibawa seorang Raja sejati: “Hari ini juga engkau akan ada bersama Aku di Firdaus.”
Bapa, pada pesta Kristus Raja ini, bukalah mata kami seperti Engkau membuka mata sang penjahat itu.
Buatlah kami melihat kekudusan Putra-Mu bukan kelemahan kami.
Gentarkanlah hati kami di hadapan cinta yang taat sampai mati; yang disalib demi kami.
Kami bersukacita, sebab misi Putra-Mu telah terlaksana: “Pintu Firdaus dibuka kembali.” Yesus, Putra Daud yang sejati, membawa para pendosa pulang ke rumah.
Dalam setiap Ekaristi, kami memperbarui perjanjian ini. Kami masuk ke dalam Kerajaan Putra-Mu yang terkasih. Kami jadi bagian dari Yerusalem baru, rumah Daud yang kami nyanyikan dalam Mazmur.
Bapa, jadikan kami siap menyambut Raja kami. Berilah kami hati yang rendah, jujur, dan penuh iman seperti sang penjahat yang baik. Sebab hanya hati seperti itulah yang merasakan kehadiran-Mu dan menghadirkan Kerajaan-Mu di dunia ini.
“Yesus, Raja Semesta Alam, Engkau bertakhta di atas salib untuk mendekati para pendosa. Ingatlah aku, pulihkanlah aku, dan bentuklah aku jadi hamba Kerajaan-Mu agar suatu hari kelak, aku pun mendengar sabda-Mu: Hari ini engkau bersama Aku di Firdaus. Amin.”
…
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

