1.
Ada apa dengan matamu?
Kuman di seberang lautan tampak
Batu besar di depan mata tak kelihatan
Atas nama kata suci imanmu
engkau kotori wajahmu dengan kerakusan
Atas nama solidaritas kemanusiaan
engkau telanjangi harkat martabatku
Basuh wajahmu dan lihatlah di cermin
Gosok gigi bersihkan mulutmu
Berkacalah pada bayanganmu
Lihatlah cahaya mentari di kepalamu
jawablah apa itu solidaritas sesama
Pandanglah pijakan telapak kakimu
bacalah arti kemanusiaan yang beradab
Apa dan siapakah dirimu saat ini
2.
Ada apa dengan rasamu?
Banyak warga anak negeri sedang kelaparan
maka ada program makanan bergizi gratis
Di kota hingga kampung udik banyak sesama yang miskin merana
Di emperan toko dan jalanan kota
ada terlunta para gelandangan
Di lampu merah para Ibu dan balita mengamen ditikam terik diguyur hujan
Banyak korban bencana alam yang masih terlantar di tanah air
Belum lagi yang pengangguran karena PHK atau memang belum dapat pekerjaan
Padahal…
untuk makan minum itu tak bisa ditunda
Kebutuhan pokok tak mungkin ditawar dan jadi konten sosial media
Inikah makna keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?
3.
Ada apa dengan pikiranmu?
Di sosial media sedang ramai berita tentang ijazah palsu
karena berhubungan dengan sosok jabatan publik
Untuk jadi pejabat publik ada syarat pendidikan dan kesehatan
Artinya pikiran waras dan pengetahuan luas
agar bisa berpikir sebelum bicara
Jiwa raga sehat walafiat
agar cerdas waras berhati nurani
sebelum membuat kebijakan jabatan
Pakailah pikiranmu melihat nasib rakyat bangsa ini
Gunakan kewarasanmu dengarkan jeritan derita sesama warga NKRI
karena engkau menjabat untuk mengabdi bangsa dan NKRI
4.
Ada apa dengan hati nuranimu?
Engkau pejabat NKRI, bukan selebriti atau penderma kemanusiaan internasional
Karena dipercaya memimpin kegiatan keagamaan tingkat nasional
maka kata solidaritasmu terlontar heroik
Ketika jabatanmu ditugaskan mengurus hajatan besar perayaan iman
maka topeng kemanusiaanmu engkau tampilkan
Bukan untuk merasakan pahit getir derita anak negeri
Bukan untuk memberi hati bagi sesama pewaris bangsamu
Namun jauh engkau solider ke lintas benua
dan tampilkan wajah NKRI di mata internasional
Coba tengoklah ke dalam negeri dan bangsamu
sebelum bicara dan terbang jauh ke negeri orang
Masihkah ada lara derita dan air mata di depan matamu?
5.
Ada apa dengan sanubari jiwamu?
Ketika menerima jabatan publik
engkau disumpah sesuai iman dan agamamu
Dengan lantang engkau ucapkan sumpah janji
di atas buku suci dan didampingi tokoh agamamu
Atas nama Ketuhanan Yang Maha Esa
demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Bukan demi kelanggengan pangkat jabatanmu
dengan mencari muka dan mengurus isu masalah di seluruh dunia
Tengoklah ke dalam sanubari jiwamu
benarkah lantang suara imanmu bergelora solidaritas
apakah amanat jiwamu bergema kemanusiaan
Jangan sampai lahar dan lumpur bencana di tanah air sedang menutupi sanubarimu
Rekam jejak digital dan reaksi warga bangsa terus mengetuk kejujuranmu

