“Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Hati Bunda Maria bersih. Ia taat dan tidak menyangkal yang diperintahkan Tuhan.
Setiap ada perkara yang besar, Bunda Maria selalu menyimpan segala sesuatu itu di dalam hatinya. Ia tidak mau salah menilai, menghakimi, salah mengambil keputusan, dan salah bertindak. Ia tidak mau menyangkal yang benar dan kebenaran itu sendiri.
Apalagi, jika hal itu terkaitan dengan kebenaran yang berasal dari Tuhan. Hatinya tetap terjaga bersih. Karena hanya kebenaran yang sumbernya dari Tuhan itulah yang memberikan keselamatan.
Hal itu pula yang selalu diajarkan kepada Yesus kecil. Hati Yesus juga dijaga tetap bersih. Tidak pernah berkhianat dan menyangkal yang dikehendaki Tuhan. Justru Dia mempunyai ketaatan yang kuat-kokoh dengan mengatakan, “Lihat, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu, ya, Tuhan.” Semua itu tergenapi sampai akhir, ketika Dia berada di atas salib dengan mengatakan, “Sudah selesai.” Dia menjaga hati-Nya tetap bersih.
Refleksi: Apakah hati kita sungguh bersih? Apa yang telah didapatkan, dihidupi, dan yang bakal diwariskan kepada anak-anak dan umat kita adalah hal-hal yang bersih?
Untuk diingat! Hati yang bersih itu tidak berkhianat pada Tuhan, sesama maupun diri sendiri. Dia taat dan selalu menjaga hatinya tetap bersih.
Jika kita sendiri belum merasa bersih, selalu ada waktu dan kesempatan untuk bersih-bersih hati melalui jalan pertobatan dan berdamai dengan sesama.
Jika kita mau berubah dan hidup bersih, katakanlah: “Amin.” Jalan pertobatan itu harus ditaati: dengan menyangkal diri, memanggul salib, dan mengikuti-Nya.
Tuhan memberkati.
…
Rm Petrus Santoso SCJ

