Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Remaja adalah pengendara lain di
bawah umur, belum menguasai “kendaraan kehidupannya.”
(Neli Triana)
Definisi Frase ‘Titik Buta’
‘Titik Buta’ adalah suatu situasi atau kondisi yang tidak diketahui dan tidak disadari, yang akhirnya akan sangat berdampak dalam kehidupan.
Teror di Kalangan Remaja yang Tidak Dipahami Orangtua
Mengapa sampai orangtua dari para siswa SMAN 72 Jakarta justru tidak mengetahui adanya fenomena berupa kekerasan ini?
Faktor ketidaktahuan dari pihak orangtua, dapat saja terjadi, karena antara lain:
- Orangtua memang sungguh tidak tahu, bahwa tanda-tanda kekerasan ini akan terjadi. Jadi, dalam hal ini, orangtua memang kurang pengetahuannya.
- Orangtua memang tidak sadar, bahwa ada perilaku tidak normal pada remaja mereka.
- Orangtua memang tidak paham akan apa yang jadi kebutuhan remaja.
- Orangtua tidak menyadari, bahwa perilaku buruk mereka akan berdampak pada remaja mereka.
Horor di Sekolah yang Sanggup Membuka ‘Titik Buta’ Para Orangtua
Horor di SMAN 72 Jakarta menyisakan banyak tanya. Para orangtua yang memiliki anak remaja, mau tidak mau berpikir, bagaimana remaja sebaya buah hati mereka mengidolakan siswa yang menembaki teman-temannya di sekolah. Bagaimana sampai berketetapan hati meracik, membawa, lalu meledakkan bom itu di sekolahnya?
Apakah dalam pikiran anak-anak kita itu ada pemikiran yang sama, atau setidaknya terlintas, bahwa gagasan mengerikan itu sesuatu yang keren, heroik? Demikian Neli Triana dalam Catatan Urbannya, Kompas, Minggu, 16 November 2025 berjudul, “Mengatasi ‘Titik Buta’ Orangtua-Anak, Mencegah Kekerasan.”
Faktor Kesepian yang Menggerogoti Jiwa Remaja
Remaja kita menghadapi tantangan hidup yang sangat berat, dan justru dimulai dari dalam keluarganya sendiri. Karena tidak sedikit para ortu yang sudah meninggalkan rumah di saat remaja mereka masih terlelap tidur. Ketika terjaga dari tidur, remaja itu tidak sempat berjumpa dengan para orangtua mereka. Itulah salah satu faktor pemicu rasa sepi. Sesampainya di sekolah, didapatinya pula para gurunya berwajah angker dan suka marah. Dalam kondisi ini, hati remaja itu akan kian keruh. Maka, lambat laun, remaja itu akan dilanda kesepian yang mencekam jiwa muda mereka
Hal ini terbukti lewat survei oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2023 dan dipublikasikan pada medio 2025. Terkait kesehatan mental data ini membuat dahi kita kian berkerut. Berikut ditemukan data:
- 4,1 persen remaja usia 13-15 tahun tidak memiliki teman dekat.
- Siswa yang berniat bunuh diri mencapai 10,2 persen.
- Siswa yang pernah mencoba bunuh diri 13,6 persen.
- 34 persen siswa pernah terlibat perkelahian fisik.
- Selain itu faktor kemajuan teknologi pun memiliki andil dalam kesehatan mental ini. Demikian data terinci dari Kompas, Minggu, 16 November 2025.
Orangtua Ternyata tidak Tahu
Sungguh mengejutkan, karena ternyata fenomena kekerasan ini justru tidak diketahui oleh orangtua dan para guru. Hal ini terbukti, ketika terjadinya teror berupa, aksi kekerasan di SMAN 72 baru para orangtua dan guru terbuka matanya.
Sejatinya, di balik kenyataan yang mengerikan itu, jika ditarik sebuah garis lurus, maka kita ketahui, bahwa semua realitas pahit ini, justru bersumber dari “relasi hubungan yang buruk” antara remaja dengan orangtua dan para guru mereka.
Refleksi
- “Tiada akan ada asap, jikalau memang tidak ada api,” demikian sebuah simpulan yang didasarkan pada prinsip sebab-akibat.
- Sebetulnya reaksi yang bergejolak di kalangan remaja kita itu hanyalah ibarat letupan bunga-bunga api dari sikap benci, antipati, dan ketidakharmonisan antara Generasi Z dengan orangtua serta para guru mereka.
- Maka, demi menuntaskan permasalahan besar ini, diharapkan adanya rekonsiliasi antara remaja dengan orangtua dan para guru mereka.
Suara Kebijaksanaan!
“Sungguh, betapa sulitnya memulihkan kembali relasi ideal antara remaja dengan orangtua, jika remaja telah marah. Lebih mudah mengalirkan air ke gunung daripada meredahkan hati remaja yang marah.
(Demikian sebuah kebijaksanaan dari negeri Tiongkok).
Kediri, 18 November 2025

