Bukan di negeriku, melainkan di negeri misi. Diriku yang berubah, bertransformasi, dan diriku yang memulai dari titik paling awal.
Bukan di tengah keramaian, melainkan di saat hening. Tidak berani bermimpi, berandai-andai, dan tidak berani berjanji ini-itu. Intinya adalah aku dapat menikmati dan memaknai hidup ini.
Jika orang yang bertanya, “ada apa?” Jawaban yang aku berikan adalah, “tidak ada apa-apa!” Hal ini sebagai proses yang baik agar hasilnya baik pula.
Sejatinya yang membanggakan itu adalah penemuan diriku kembali. Dengan dimensi-dimensi yang baru. Aku makin tenang, jeli, dan tajam. Aku juga makin sabar dan bijak. Sehingga dalam menghadapi suatu persoalan itu aku lebih tenang, jernih, dan terang untuk menyelesaikannya.
Penemuan diri ini memberikan efek yang kuat pada perjalanan spiritualku. Seolah-olah aku dilebur di setiap kontemplasiku untuk menuliskan sentuhan kasih Tuhan dan membagikannya. Kata-kata itu sebagai proses kreativitas dari jiwa, hati, dan pikiranku. Mungkin sedang dialami oleh diriku, bisa juga sedang digumuli oleh mereka yang membacanya. Tapi ada yang lewat begitu saja, atau bisa menusuk hati para sahabat.
Kita semua bisa berbeda atau sama sama yang lain. Artinya, kita sama-sama sebagai manusia yang sedang berziarah, tapi berbeda pada proses penemuan diri. Maaf, mungkin ada di antara kita yang belum bisa menemukan atau mengalami kesulitan untuk menemukan dirinya sendiri. Bahkan, bisa jadi ada orang yang menolak diri dan keadaannya.
Sejatinya, siapa pun yang menolak dirinya akan berhadapan dengan satu kata ini: “penyesalan!” Mengapa? Karena tidak sanggup bertransformasi.
Rm. Petrus Santoso SCJ

