“Hidup ini harus dikelola secara baik dan ditata rapi agar masa depan jadi cerah dan pasti.” -Mas Redjo
…
Hari ini adalah realita, hari esok itu harapan, dan masa depan adalah kepastian, ketika “kita percaya, mengimani, dan mengandalkan Allah.”
Pengalaman hidup di lingkungan Tionghoa itu mengajarkan saya makna gaya hidup prihatin, yakni ‘low profile’ dengan membiasakan diri menabung, istilah kerennya ‘pendem duwit’.
Maksud dan tujuan menabung itu adalah, tidak selamanya bekerja pada orang lain, tapi kita dituntut untuk mempunyai usaha sendiri dan mandiri.
Dengan ‘low profile’ agar kita rendah hati. Menjauhi sifat pamer. Lebih baik orang lain itu tidak tahu keadaan kita, kecuali Allah yang memberi dan melihat hati.
Pengalaman ‘pendam duwit’ itu mengajar pada saya untuk membangun budaya antisipasi. Maksudnya tabungan itu untuk multi fungsi dan kegunaan agar saya tidak termehek-mehek, bingung, takut, dan tidak berdaya, ketika saya dihadapkan pada kenyataan pahit dan miris hati.
Budaya antisipasi itu tidak sebatas pada materi. Tapi juga pada hal-hal baik dan amal kasih agar hidup kita berkenan bagi Allah. Karena kita tidak tahu waktunya untuk kembali kepada-Nya.
Dengan memaknai budaya antisipasi itu pikiran saya jadi jauh ke depan, bahkan hingga untuk menghadapi saat berpulang kepada Allah.
Dengan budaya antisipasi itu pula mengajar saya dalam beradaptasi di segala situasi dan kondisi hidup ini. Untuk berubah, memperbaiki diri, dan hidup jadi makin baik.
Menata hati untuk membangun budaya antisipasi dan beradaptasi adalah gaya hidup saya guna menyongsong masa depan yang pasti: hidup tenang, damai sejahtera, dan bahagia.
Gusti amberkahi,
Mas Redjo

