“Jangan gaduh dalam kegelapan dunia. Tapi senyapkan pikiran di keheningan hati untuk diterangi Ilahi.” -Mas Redjo
Bertanya, selalu bertanya ke mana kita harus melangkah pergi untuk menemukan tujuan dan jawaban pasti dari yang Ilahi.
Selalu mohon semangat rendah hati kepada Allah adalah jawaban agar saya tidak gaduh sendiri dan tenggelam dalam keriuhan dunia, tapi lindap dalam belas kasih-Nya.
Saya sadar sesadarnya, tanpa pertolongan rahmat Allah, saya ini siapa dan bukan siapa-siapa. Melainkan karena aku milik-Nya, dan “Allah andalanku.”
Selalu mengandalkan Allah adalah semboyan jiwaku agar hidup saya dilimpahi damai, sejahtera, dan bahagia.
Semula hidupku hanya berorientasi untuk mengejar sukses, yakni mewujudkan target demi target. Karier yang meroket dan usaha yang makin mantap itu ternyata tidak membuat saya berpuas diri Sebaliknya membuat saya selalu berkekurangan dan tiada puasnya.
Tidak hanya itu, saya juga tidak mau disaingi, apalagi didului dan disalip orang lain. Karena saya ingin jadi superior dan wow!
Aneh, tapi nyata pula. Saya jadi senang nyinyir, bahkan mudah korslet, emosi saya meledak-ledak. Hingga suatu hari saya diingatkan Allah, lewat peristiwa anak saya yang kecelakaan dan merenggut jiwa orang yang ditabrak motor teman anak. Sedang anak yang digonceng teman itu kakinya harus dijahit 42 jahitan.
Ternyata, karena getol mencari uang, saya melupakan keluarga. Adalah keliru besar, jika keluarga itu sekadar dicukupi dengan materi, tapi minus perhatian, kepedulian, dan kasih sayang.
Peristiwa anak yang kecelakaan itu jadi titik balik perubahan hidup saya untuk selalu menyediakan waktu berkumpul dengan keluarga. Berkomunikasi dari hati ke hati.
Dengan membuka hati untuk banyak mendengar itu saya jadi makin peka untuk belajar tentang kesejatian hidup ikhlas.
Jadi pribadi yang rendah hati untuk mewujudkan kehendak Allah.
Niat ingsun!
Mas Redjo

