Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Eo romam iterum crucifigi”
(Yesus Kristus)
Sebuah Refleksi Historis
Tulisan ini bertolak dari sebuah refleksi religius historis mengenang “kisah perjumpaan yang tak diduga antara Guru dan Murid” di Via Appia, sebuah jalan di kota abadi Roma, Italia.
Dalam refleksi ini, kita akan fokuskan pada sebuah adegan paling kontroversial, yang diambil dari sebuah Roman Sejarah, karya Hendrik Siekiewich, pemenang Nobel Sastra tahun 1905.
Adegan kontroversial ini terjadi pada tahun ke-1, Masehi di masa pemerintahan Kaisar Nero, si lalim kejam itu.
Kisah seorang Gembala umat yang sangat ketakutan menghadapi tekanan secara fisik pun mental, karena kekejaman Kaisar Nero.
Ketika Kaisar Nero Membakar Kota Roma
Ketika lautan api tengah berkecamuk menghanguskan kota, dalam suasana yang mencekam, Rasul Petrus yang telah uzur turut berlari untuk meninggalkan kota Roma. Saat berada di Via Appia, ia sempat berpapasan dengan Sang Guru, Yesus Kristus yang tampaknya justru hendak memasuki kota yang tengah diamuk lautan api itu. Dalam keterkejutannya, Petrus bertanya.
“Quo Vadis, Domine?”
(Ke manakah Engkau pergi, Tuhan?”)
“Eo Romam iterum cricifigi” (Saya hendak ke Roma untuk disalibkan sekali lagi), sahut Sang Guru. Karena engkau telah meninggalkan domba-domba-Ku.
Mendengar ucapan yang sungguh menantang itu, Petrus merasa malu. Akhirnya ia ikut memasuki kembali ke kota itu.
Tindakan Melarikan Diri
Sebagai manusia, kita tergolong sebagai makhluk yang sangat rapuh dan juga sangat mudah terombang-ambingkan oleh aneka sikon. Kerapuhan ini akan mudah dibaca lewat gelagat Petrus yang seketika, karena merasa takut, ia hendak melarikan diri dari kota itu.
Di tengah jalan pelariannya itu, ia justru dihadang oleh sekeping wajah nan agung yang sudah sangat dikenalnya. Wajah agung Sang Guru, Yesus Kristus.
Dalam suasana gagap, karena hampir tak dapat dipercaya dan kondisi yang terjepit, Sang Guru Agung itu justru hadir berada tepat di depan matanya.
“Ya, Aku hendak kembali ke kota Roma untuk disalibkan sekali lagi, karena engkau telah meninggalkan domba-domba-Ku.”
Tali Kesetiaan itu Mudah Terkoyak
Tali kesetiaan seorang anak manusia itu memang sangat terbatas. Karena sering sangat mudah goyah dan akan ambruk seketika.
“Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau,” celetuk Petrus dengan gagah perkasa.
“Gembalakanlah domba-domba-Ku,” kata Yesus, hingga untuk ketiga kalinya. Maka, menangislah Petrus.
Kita pun adalah Petrus
Sering kali kita sama seperti Petrus. Karena kita mudah merasa gelisah, cemas, dan takut mengahadapi aneka tantangan hidup. Relasi ketulusan kita juga sangat rapuh. Bahkan relasi antara suami dan istri mudah goyah. Juga relasi antara Guru dan murid pun demikian.
Kesetiaan Sejati Datang dari Tuhan
Sungguh, hanya Tuhan yang setia. Kasih-Nya bersifat kekal, “Aku akan setia menyertaimu, hingga akhir zaman,” sebuah janji dasyat dari Tuhan.
Refleksi
- Tuhan, semoga lewat kisah kesetiaan-Mu ini, kami disadarkan, bahwa kami ini hanya makhluk yang lemah.
- Ajarilah kami agar rela dan ikhlas untuk belajar dari kesetiaan ajaib-Mu.
- Kami percaya, bahwa kesetiaan itu akan menghidupkan!
Dum Vita est, Spes est
(Selama masih ada kehidupan, di situ pula masih ada harapan).
Kediri, 15 November 2025

