“Sekecil apa pun ganjalan di hati itu harus segera diobati agar sembuh. Jika dibiarkan bakal jadi penyakit kronis dan berbahaya.” –Mas Redjo
Awalnya saya, kau, dan kita sering menyepelekan, meremehkan, dan tidak peduli dengan perilaku yang suka mengumpat, mencemooh, dan nyinyiran pada teman. Disadari dan diakui, atau tidak, ternyata hal itu dapat menimbulkan luka pada diri sendiri dan orang lain.
Padahal perilaku yang dianggap sepele dan remeh itu perbuatan buruk. Jika dijadikan kebiasaan bakal meracuni hati. Kita mudah emosi, tersinggung, benci, dan bisa jadi permusuhan, bahkan dendam.
Kesadaran di hati ini muncul, ketika saya ingin menonjolkan diri dengan menceritakan kejelekkan teman itu di belakangnya. Tanda disadari, bercandaan konyol itu melukai hati saya atau sebaliknya. Kami saling jaga jarak membatasi diri, bahkan ada juga yang pergi menjauh diam-diam dan bermusuhan.
Rasa berjauhan dan kehilangan teman membuat saya berpikir dan mawas diri. Hati yang luka itu harus segera diobati untuk disembuhkan. Saya belajar berbesar hati untuk tidak mudah tersinggung dengan perilaku teman yang terkadang kasar, konyol, dan keterlaluan. Lebih baik diingatkan dengan bijak agar tidak tersinggung, tapi sadar diri.
Dengan mawas diri mengajar saya untuk berhati-hati menggunakan mulut ini, dan mengendalikannya. Untuk bijak dalam berkata-kata. Berpikir dulu sebelum bicara atau bertindak agar tidak menimbulkan penyesalan di kemudian hari.
Selalu berbenah untuk menata diri itu prinsip saya mengendalikan pikiran ini dengan hati. Kebiasaan buruk berkeluh kesah, bercandaan kasar, sumpah serapah, dan hal-hal buruk itu saya buang jauh.
Saya juga tidak suka menyimpan kebencian dan dendam, karena membuat jiwa ini jadi sakit dan hilangnya sukacita di hati ini.
Saya lalu menanam dan menyemai hal baik dan positif di hati ini untuk berani memberi maaf dan memaafkan dengan ikhlas hati.
Rekonsiliasi adalah jalan damai untuk kembali ke jati diri agar hidup kita menghasilkan buah-buah kasih-Nya.
Mas Redjo

