Sabda Allah mengajarkan kami untuk menimba hikmat yang menuntun pada hidup: memimpin itu bukan dengan kesombongan, melainkan dengan kasih; berjalan bukan dengan kekuatan sendiri, melainkan dengan hati yang tahu bersyukur.
Dalam hikmat-Nya, Allah mengingatkan, bahwa segala kuasa, kesehatan, dan rahmat berasal dari-Nya. Seperti para pemimpin yang diingatkan dalam Kitab Kebijaksanaan, Ia memanggil kami untuk menyadari, bahwa setiap wewenang, bahkan atas hidup kami adalah titipan, bukan milik pribadi. Mereka yang memerintah tanpa belas kasih akan jatuh dari takhtanya. Tapi mereka yang bertindak adil dan penuh kasih akan bersinar dalam terang-Nya untuk selama-lamanya.
Yesus menunjukkan hikmat yang sama lewat kisah sepuluh orang kusta. Mereka berseru, dan Yesus mendengar. Mereka taat, dan Yesus menyembuhkan. Seorang kembali, dan Yesus menyelamatkan.
Langkah pertama iman adalah berseru. Kita menyadari kebutuhan dan memohon belas kasih Tuhan.
Langkah kedua adalah taat. Kita melangkah dalam percaya, meski belum melihat tanda-tanda pemulihan. Tapi langkah terdalam adalah bersyukur. Kita kembali kepada-Nya, bukan hanya karena karunia, melainkan karena Allah, Sang Pemberi.
Orang Samaria yang disembuhkan itu mengajarkan, bahwa syukur itu mengubah penyembuhan jadi keselamatan. Hatinya, yang dulu tertutup oleh malu dan luka itu jadi bait pujian bagi-Nya. Syukurnya membuka jalan bagi rahmat yang lebih besar— demikian pula dalam hidup kami, ya Tuhan.
Ajarlah kami untuk selalu kembali kepada-Mu dengan hati bersyukur.
Dalam setiap doa yang pasti Kau dengar. Semoga kami menemukan bukan hanya jawaban, melainkan sebagai persekutuan.
Dalam setiap berkat, bukan hanya penghiburan, melainkan keakraban dengan-Mu.
Dalam setiap kasih-Mu, semoga kami belajar bertindak adil, mengasihi dengan lembut, dan berjalan rendah hati di hadapan-Mu.
Dalam Ekaristi yang berarti syukur, kami terus kembali kepada-Mu, dari hari demi hari. Di sanalah kami berseru, mendengar, belajar taat dan setia, kembali datang untuk bersatu dengan Engkau.
Semoga hidup kami jadi nyanyian iman seperti mantan penderita kusta Samaria itu:
“Yesus, terima kasih karena Engkau mendengar, menyembuhkan, dan menyelamatkanku.” Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

