“Siapa menanam, pasti memanen. Buah yang dipanen itu tidak mengingkari pohon yang ditanam.” -Mas Redjo
Karena bersikap jujur dan benar itu melapangkan jalan umat beriman, saya menjauhi perilaku kamuflase dan pura-pura. Saya memilih hidup sederhana dan bahagia.
Hidup (alm) Bapak yang bersahaja itu tidak sekadar menginspirasi, tapi saya hidupi dalam keseharian agar saya sadar diri, untuk selalu ‘eling lan waspada’. Karena sejatinya, tujuan hidup ini untuk dimaknai.
“Orang bodoh itu mereka yang ‘adigang, adigung, adiguna’. Padahal mereka itu siapa dan tidak mempunyai apa-apa.”
Nasihat bijak Bapak itu terpatri di hati ini untuk diingat dan dihidupi. Tujuannya agar hidup yang sekadar ‘mampir ngombe’ itu bermanfaat bagi sesama.
Makna terdalam agar kita tidak ‘adigang, adigung, adiguna’ adalah hidup ini harus dijalani dengan semangat rendah hati.
Sejatinya, dalam hidup kita tidak ada yang perlu dibanggakan dan disombongkan, meski seberapa tinggi dan hebatnya pencapaian kita. Karena semua itu anugerah Allah.
Hidup ini sumbernya tidak dari diri sendiri, tapi dari Allah Yang Maha Memberi. Jika dari dan untuk diri sendiri itu berasal dari keegoisan dan si Jahat.
Begitu pula, saat saya dicemooh teman, karena mengurus diskon tiket KA untuk lansia. Saya diam tidak membela diri. Mereka tidak tahu maksud dan tujuan saya, yaitu diskon yang lumayan besar itu dapat disumbangkan pada orang-orang yang kurang beruntung.
Memberi ikhlas hati itu tidak untuk pembuktian atau pencitraan diri. Kita diajak untuk melepas tanpa merasa kehilangan, karena “Dari Allah kembali kepada Allah.”
Mas Redjo

