Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kini ia pun tergeletak di sebuah sudut sunyi, jauh dari ingatan manusia”
(Didaktika tentang Nestapa Jiwa)
Hidup adalah Sebuah Ziarah
Sepasang Sepatu Tua, tampak tergeletak di sebuah sudut sunyi. Jauh dari tatapan mata banyak orang. Karena ia sudah bukan milik siapa-siapa lagi dan juga sudah tak berfungsi apa-apa lagi. Kini debu dan abu setia menemani dengan menyelimutinya.
Ziarah hidupnya juga sudah berakhir dalam sunyi, sepi, dan sendiri. Ke manakah sirnanya, sepasang kaki yang dulu setia menemaninya? Sepasang kaki yang dengan sesuka hati menginjakkan ke atas aspal nan panas membara, juga ke dalam kubangan genangan lumpur nan pekat, atau ke atas kerikil nan tajam. Tapi, ia selalu hanya diam dan menerima tanpa kompromi serta tukar pandangan. Ya, itulah nasibnya, sepenggal kehidupannya, dan nasib sialnya pula. Sekali lagi, itulah akhir dari ziarahnya.
Aneka Simbol dari Sepasang Sepatu Tua:
- Sepasang Sepatu Tua, dapat menyimbolkan sebuah ‘penziarahan’ yang telah berakhir pada sebuah garis finis. Kini ia tengah beristirahat lewat sebuah pengalaman panjang tentang suka duka hidupnya.
- Sepasang Sepatu Tua adalah simbolisasi dari sikap sederhana dan kerendahan hati. Ia sungguh sadar, bahwa kini, dirinya sudah tidak berguna dan juga tidak bernilai di mata dunia. ‘Out of date’.
- Sepasang Sepatu Tua dapat bermakna sebagai sebuah memori atau ‘kenangan akan pengorbanan’ hidup. Seperti kata orang Latin, “Vivere militare est,” bahwa hidup ini adalah perjuangan. Kini tiba saatnya, ia mau berhening diri lewat sebuah kenangan.
Siapakah Pemiliknya?
Siapakah sang pemilik dan ke manakah perginya? Ya, bukankah pemiliknya adalah Anda dan saya, kita, dan juga mereka? Kita adalah pemilik yang berhati Tuan itu. Mengapa? Ya, karena betapa cepatnya kita melupakannya? Mengapa kita rela memojokkannya di sebuah sudut paling sunyi? Apakah karena kita telah lupa akan jasa-jasa baiknya, ataukah kita sengaja telah membiarkannya tersudut dan merana? Jika memang demikian, maka sikap kita ibarat ‘kacang yang melupakan kulit’ alias ‘habis manis, sepah pun dibuang.’
Sungguh betapa malang nasibmu wahai sepasang sepatu tua!
Refleksi
Mari kita belajar untuk berefleksi agar kita mampu menimba amanat agung dari balik nasib sepasang sepatu tua itu!
- Siapakah sesungguhnya kita, selaku pemilik sepasang sepatu tua itu?
- Telah lupakah kita akan jasa-jasa baik dari sepasang sepatu tua di dalam ziarah hidup kita?
- Mengapa kita justru begitu cepat melupakannya?
- Selamat berziarah dalam: kerendahan hati, kesederhanaan, dan sikap pengorbanan.
Kediri, 12 November 2025

