“Hikmat kami, pengampunan, dan dasar hidup kami adalah taat dan setia pada Tuhan.”
Tuhan Yang Maha Rahim, Engkau mengenal dan menyelami kami. Bahkan sebelum kata terucap di lidah kami, Engkau sudah memahami isi hati kami. Engkau melihat pergulatan batin kami, antara godaan, pengampunan, dan iman.
Tuhan, sabda-Mu mengingatkan kami akan tiga kekuatan yang membentuk hidup rohani: kekuatan godaan yang menjauhkan kami dari-Mu, pengampunan yang memulihkan persekutuan dengan-Mu, dan kekuatan iman yang memindahkan gunung dan menyembuhkan hati yang terluka lewat pengampunan.
Kitab Kebijaksanaan mengajarkan, bahwa “hikmat tidak akan masuk ke dalam jiwa yang merancang kejahatan.” Kekudusan dimulai dari kemurnian hati. Hati yang memilih kebenaran, meski dusta lebih disukai, dan kebaikan, meski kejahatan tampak lebih mudah. Roh Tuhan memenuhi seluruh bumi dan meneliti isi hati manusia. Tiada sesuatu yang tersembunyi bagi pandangan-Mu, ya Allah.
Engkau tidak memandang untuk menghukum, melainkan untuk menuntun; menarik kami kembali saat tersesat; membisikkan keberanian agar kami mau mengampuni lagi, bahkan tujuh kali, hingga kerahiman-Mu membentuk hati kami jadi serupa dengan Kristus.
Betapa sulitnya, Tuhan, untuk tetap setia di dunia yang lebih menghargai toleransi daripada kebajikan, yang menertawakan integritas dan memaklumi dosa. Namun sabda-Mu memanggil kami untuk berdiri teguh. Bukan dalam penghakiman, melainkan dalam kasih yang tidak menutup mata terhadap kejahatan, dan dalam iman yang percaya, bahwa rahmat-Mu lebih kuat dari kelemahan kami.
Ketika kami mengampuni, kami ikut serta dalam kemenangan-Mu. Setiap tindakan belas kasih melepaskan belenggu dosa, baik pada orang lain maupun dalam diri kami sendiri. Saat kami tekun dalam tobat dan rekonsiliasi, Engkau menyembuhkan kami sedikit demi sedikit, sampai luka itu tidak lagi berkuasa atas kami.
Ya, Bapa anugerahkanlah kami ‘hikmat’ untuk menjaga hati, ‘iman’ untuk menyingkirkan segala penghalang pengampunan, dan ‘keberanian’ untuk jadi saksi kekudusan di dunia yang terluka.
Jadikan kami dasar iman bagi sesama. Bukan batu sandungan, melainkan batu pijakan yang menuntun jiwa-jiwa kepada-Mu.
“Ya, Roh Kudus, hembuskanlah hidup-Mu ke dalam kami agar mencintai yang kudus untuk menolak yang palsu, dan tetap teguh di dalam Kristus Yesus. Amin.”
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

