Tidak sedikit umat kita masih berpandangan, bahwa hidup menggereja itu milik para Imam, Biarawan, Biarawati, para religius, dan pengurus Gereja yang sehari-hari terlibat dalam pelaksanaan kegiatan ibadat dan pengajaran.
Pandangan itu tidak salah. Tapi perlu dipahami lebih lanjut, bahwa sejak Gereja Perdana justru umat Allah berjuang terlibat dalam menjalankan misi Kristus. Para Imam, Biarawan, Biarawati, dan para religius sejak dahulu tumbuh sesuai tantangan zaman dalam hal kekudusan hidup komunitas.
Gambaran Bait Allah yang memberi hidup melalui aliran air ke sekitarnya bermakna simbolis, bahwa jadi garam dan terang dunia itu sangat perlu dilaksanakan oleh pribadi yang sudah memilih Kristus jadi bagian hidupnya. Gambaran ini jadi hidup, karena Bait Allah sejati adalah Kristus yang sama-sama kita imani dan terima dalam Ekaristi.
Dengan menerima Kristus, kita jadi tenang dan penuh sukacita. Beberapa pribadi yang baru pertama kali mengikuti Ekaristi, karena baptisan dewasa mengatakan bahwa ‘batin’ jadi lebih tenang, nyaman, dan lega setelah perjalanan panjang mengikuti pembinaan hingga baptisan diterima. Mungkin saja itu ungkapan klise, namun kesetiaan mereka sungguh menampilkan kualitas iman dalam pribadi yang baik. Kita juga dipanggil jadi pewarta iman melalui cara hidup keseharian. Demikianlah Kristus dalam setiap Ekaristi yang kita terima memberi tanda hidup, bahwa Bait Allah hadir dalam diri yang Ekaristis. Karena dengan mengikuti Ekaristi, kita jadi pembawa kasih Kristus bagi sesama.
Marilah kita makin meneguhkan diri dengan pengalaman rohani bersama Yesus, karena dengan itu pula kita makin dibentuk jadi bagian Tubuh Mistik Kristus, Bait Allah yang hidup sampai keabadian.
“Ya, Yesus, Bait Allah yang kudus dan setia, berbagai tantangan dan perjuangan tak pernah hilang dalam hidup kami. Semoga kami selalu diteguhkan dengan setiap pengalaman bermakna dan kekudusan yang mengarahkan hidup kami. Amin.”
…
Ziarah Batin

