“Mendisiplinkan kebiasaan baik: berkomunikasi dengan hati untuk saling memahami dan bahagia.” -Mas Redjo
Bersyukur, saya mempunyai Ibu yang pengertian. Semula Ibu tidak mengizinkan merantau, karena saya anak bungsu. Tapi saya memberi pengertian dan mohon restunya.
Saya ingin merantau ke kota itu tidak didasari ingin melarikan diri dari kenyataan pahit. Saya tidak bisa kuliah seperti Mbak dan Mas, tapi saya memahami keadaan ekonomi orangtua yang makin sulit.
Saya sadar sesadarnya, merantau itu jalan terbaik untuk memperbaiki dan mengubah nasib. Selain karena pendidikan saya rendah, pekerjaan itu juga sulit diperoleh di kota kecil.
Untuk memperoleh pekerjaan di kota itu yang penting ringan tangan dan tidak memilih-milih pekerjaan, serta asalkan yang penting itu halal.
Sedang nasihat bijak Bapak yang mengiringi langkah saya makin optimis menuju kota perantauan adalah agar saya tidak mudah komplain atau nyinyiran dengan
keadaan yang tidak berkenan di hati. Tapi saya dituntut untuk berani berubah dan memahaminya guna melihat hikmat yang tersembunyi. Sehingga hati ini tidak mudah terluka, sebaliknya kita jadi pribadi yang tangguh, sabar, dan rendah hati.
Mendisiplinkan kebiasaan baik: untuk berkomunikasi dengan hati guna memahami orang lain adalah pijakan saya dalam membangun relasi dengan sesama agar hati ini dilimpahi sukacita dan damai.
Seiring perjalanan waktu, ternyata berkomunikasi dengan hati itu juga ditujukan pada diri sendiri. Ketika makin peka untuk mendengarkan suara hati, dijamin kita bahagia lahir batin.
Hati kita adalah tahta Tuhan. Suara hati adalah suara-Nya!
Mas Redjo

