Red-Joss.com – Kerja sesungguhnya lebih dari sekadar tugas untuk diselesaikan. Bukan pula sebatas tindakan demi satu imbalan, uang misalnya. “Bagi orang tertentu kerja adalah hidup yang dijaga dengan segala upaya.”
Kita dapat memetik nilai dari kisah seorang Topa yang ‘menghargai kerja lebih dari harga dirinya’. Hidup itu harus kokoh, tidak rapuh, dan tidak lembek.
Bila kita dapat menggali dimensi makna kerja yang lebih dalam, mungkin sikap kita akan berubah.
Panca Makna Kerja
K – Keluarga
Kerja bukan hanya urusan pribadi. Upah yang kita dapat dari kerja itu terkait dengan kehidupan keluarga. Makan minum, tempat tinggal, kesehatan, sekolah, kebersihan, keamanan, dan sebagainya.
E – Egalitas
Kerja itu membantu seseorang memiliki ‘rasa setara’ dengan yang lain.
“Wah, koq mruput. Kerja, ya Mas, Mbak?”
“Iya, takut telat. Macet.”
Bayangkan, jika kita tidak bekerja. Berani ke luar rumah setelah tetangga pergi. Takut ketahuan kalau nganggur. Harga diri pun tersungkur.
R – Rahmat
Kerja adalah karunia. Berkat Yang Kuasa. Kerja selain mendapat upah bermaknakan hari depan. Harus nabung. Bentuknya terserah, sesuai selera dan daya. Beli tanah? Sebisanya. Mengapa? Tanah itu bisa jadi apa saja. Kita mesti sadar, tidak semua kerja berakhir dengan pensiun seperti pegawai negeri, yang digaji sampai mati, meski tak kerja lagi, turun temurun pula. Kalau ada yang bukan pegawai negeri, tapi punya pensiun sampai mati, itu namanya bejo, rahmat, berkah. Mari kita rajin berlutut dan bersujud untuk berkah kerja yang kita miliki. Ojo ndleyo!
J – Jati diri.
Dari cara kerjamu, orang lain akan tahu siapa dirimu. Bisa diandalkan, dipercaya, diteladani atau ora kalap alias bereskan saja, karena tak bermutu. Maka Ojo do sembrono!
A – Andap Asor.
Artinya selalu ingat bahwa kerja adalah rahmat. Semata karena kemurahan Tuham. Sikap hati yang terbaik adalah tetap ‘andap asor’, dan ingat, bahwa kerja memiliki nilai sosial. Berkah yang kita terima sebagian milik sesama. Berdermalah!
Ojo lali, berdermalah!
…
Jlitheng

