Dalam suatu bincang-bincang, seorang cantrik bertanya pada Guru Bijak:
“Guru apa arti kebanggaan bagi seseorang? Apakah kebanggan itu harus dicari dan diungkapkan?”
Guru Bijak tersenyum renyah. Sebelum ia menanggapi, seorang cantrik yang lain menimpali.
“Apakah orang yang awalnya terpuruk lalu meraih sukses itu juga peroleh suatu kebanggaan?”
“Orangtua yang pe-en-es berhasil mengantar anak-anaknya meraih gelar Sarjana, dan berprestasi itu berarti membanggakan?” timpal yang lain.
“Seorang wirausaha yang pantang menyerah. Dari zero lalu jadi hero.”
“Kita yang mampu memanusiakan manusia dengan kasih…”
“Suatu komunitas yang berhasil mengangkat dan memberdayakan ekonomi umat…”
Perbincangan mengalir. Menarik. Seru. Sesekali diselingi tawa. Ternyata banyak hal yang bisa dibanggakan dan membanggakan.
“Semua yang kalian kemukakan itu tidak salah. Kadar kebanggaan tiap orang itu tidak sama. Bagaimana kita mewujudkan kebanggaan itu dan mensyukurinya.”
“Yang jelas, kebanggaan itu muncul dari mana? Apakah kebanggaan itu jadi tujuan utama dari suatu tindakan? Ingin dipuji, misalnya. Kita menyumbang jutaan rupiah, aktif di kegiatan sosial, atau badan amal. Kenyataannya, banyak di antara kita yang aktif di pelayanan, tapi melupakan keluarga sendiri. Apa kebanggaan seperti ini yang dicari?”
“Boleh saja aktif di pelayanan, tapi tidak berarti melupakan tanggung jawab dalam keluarga. Kita tetap mendahulukan keluarga, baru ke hal yang lain. Kita hendaknya juga menyadari, kebanggaan yang kita cari dan perjuangkan itu untuk apa? Supaya dipuji, wow, hebat?! Apakah kita tahu, bahwa kebanggaan itu bersifat semu dan hanya kesia-siaan?”
“Apakah kita ingat pada kisah seorang janda yang berderma dari keikhlasannya? Memberi lewat tangan kiri dan tangan kanan tidak mengetahuinya.”
“Kebanggaan yang sebenarnya itu tidak memabukkan; tidak untuk menonjolkan diri sehingga lupa diri; tapi perbuatan yang didasari “rasa syukur dan tanpa pamrih.” Kita mengerjakan secara sembunyi dan jauh dari publikasi. Intinya kita melakukan hal-hal yang positif itu merupakan kewajiban, komitmen dan tanggung jawab kita sebagai ungkapan syukur, supaya Allah berkenan menyalurkan berkat-Nya melalui kita.”
“Kebanggaan semu itu dimiliki oleh mereka yang ingin dipuji dan dihormati. Hati ini jadi sakit, karena hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kita juga jangan berprasangka buruk dan menilai negatif, jika di sosmed ditebari banyak orang sukses dan hebat sebagai bentuk kesombongan. Kita tidak boleh iri atau benci. Tapi ambillah hal baik dan positif untuk memotivasi dan pembenahan diri untuk hidup yang makin baik,” jelas Guru Bijak sambil mengamati para cantriknya.
“Sebaliknya orang yang menjalani hidup dengan rendah hati itu jauh dari kecewa. Meski diremehkan, dicemooh, atau difitnah. Karena mereka bekerja dan berkarya tidak mencari pengakuan diri, tapi untuk memberi bukti.”
“Orang menepuk dada (sombong) itu melukai diri sendiri. Tapi yang berkarya untuk mensyukuri hidup itu diberkati Allah. Kebanggaan yang hakiki itu hanya punya Allah: sumber segala berkat….”
Semoga kita makin sadar diri untuk mengejawantahkan anugerah Allah. Hidup ini hanya untuk kemuliaan-Nya.
Mas Redjo

