Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Di tempat kediamanmu inilah, Surga dan Bumi pun dapat bersua.”
(Suara Sang Kebenaran)
Manusia di Bumi dan Tuhan di Surga
Kita manusia dina papa ini hidup, bergerak, dan ada secara nyata di atas seceper bumi nan fana ini sebagai sebuah realitas yang tidak terbantahkan kebenarannya. Di sisi lain, kepada kita diajarkan, bahwa ada juga sebuah tempat lain, itulah Surga, sebagai tempat kediaman Tuhan.
Kita memandang tempat itu jauh tak terhingga. Sebuah tempat yang secara nurani kita merindukannya dari atas bumi maya ini. Kita sangat sadar dan percaya, bahwa itulah sebuah tempat yang suci, mulia, dan kudus.
Di Mana Bumi Bertemu Surga?
Suatu hari, dua orang Biarawan Katolik sedang asyik membaca sebuah buku kuno. Buku itu mengisahkan, bahwa di akhir zaman nanti, Surga dan Bumi akan bertemu. Maka, kedua Biarawan itu memutuskan untuk segera mencari, meneliti, dan tidak akan kembali sebelum mereka menemukannya.
Langkah berikutnya, keduanya mulai menyusuri gunung-gunung dan lembah-lembah. Melintasi negara dan bangsa. Di balik upaya itu, tidak sedikit tantangan dan hambatan menghadang mereka. Tapi nyali keduanya tidak ciut juga.
Secara sangat rinci dideskripsikan di dalam buku itu, bahwa “Jika seseorang menemukan tempat spesial itu, maka di situ pun tersedia sebuah pintu dan dia harus mengetuknya. Pintu itu akan segera terbuka dan itulah Kerjaan Cinta Allah yang sesungguhnya.
Akhirnya keduanya menemukan tempat itu. Mereka segera mengetuknya. Alangkah kerasnya debar jantung mereka. Apa yang mereka temukan?
Ternyata, dan ternyata, … keduanya malah sedang berada di dalam komunitas Biara mereka sendiri.
Secara rohani dan spiritual, kini keduanya kian sadar, bahwa “tempat di mana Allah menempatkan kita untuk hidup bersama, itulah (tempat) Surga dan Bumi bertemu, dan dari sinilah Kerjaan Allah pun bermula.”
Michaelskalendar
(1500 Cerita Bermakna)
Surga dan Tuhan Berada di Mana-mana
Dulu, di masa kecil kepada kita diajarkan lewat Katekismus, bahwa Tuhan berada di Surga dan sekaligus juga di mana-mana. Karena bukankah Dia itu Maha Kuasa? Bahkan secara ekstrem dikatakan juga, bahwa Surga berada di dalam hati kita, jika kita hidup dengan saling mencintai.
Bila Kita saling Mencintai di Situ pun Allah Hadir
“Di mana dan bilamana hati kita dapat saling mencintai dengan ikhlas,” maka di situ pun Allah sungguh hadir. Inilah sepenggal pernyataan yang sungguh mewakili kebenaran dari isi ajaran iman kita.
Sehingga murid terkasih, Rasul Yohanes berkata, bahwa “Deus Caritas est,” Allah adalah Kasih. Inilah sebuah kesaksian iman yang bertolak dari pengalaman dan penghayatan hidupnya.
Refleksi
Jika Surga dan Bumi sekaligus dapat jadi tempat kediaman kita, karena bukankah Allah pun hadir dan berada di mana-mana?
Di tempat di mana Allah hadir, maka di situ pun kita dapat berada.
Kunci sentral dari semuanya itu, bahwa “Allah selalu hadir dan beserta kita, sekaligus Dia dapat berada di mana-mana. Asalkan kita sungguh percaya dan mengasihi-Nya dengan hati yang bersih.”
“Berbahagialah orang-orang yang suci hatinya, karena mereka pun akan melihat Allah!”
(Delapan Sabda Bahagia)
Kediri, 5 November 2025

