Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com – Zaman dahulu, kampung adat hanya di akses oleh komunitas pemiliknya. Pihak luar sangat terbatas untuk memasuki kampung adat. Ada banyak alasan dan konteksnya di setiap komunitas adat budaya lokal. Ada bangunan rumah adat, tempat ritual komunitas, tata kelola dan pemangku adat, serta sistem pertahanan terhadap musuh. Kendaraan lokal, misalnya sampan bagi yang dekat pantai atau sungai. Ada juga kuda dipakai sebagai sarana transportasinya.
Zaman berubah dan ada hal baru diciptakan seperti banguna jalan raya dan jembatan, juga listrik masuk kampung. Bahkan ada jalan yang melintas di tengah kampung adat. Sehingga banyak hal baru ikut berpengaruh. Relasi dengan pihak luar semakin terbuka, sarana dari luar pun masuk kampung adat, termasuk kendaraan bermotor.
Masuknya berbagai sarana baru dalam kampung, khususnya kendaraan bermotor, mempengaruhi hampir semua segi kehidupan komunitas kampung adat budaya lokal.
Manusia harus mengubah cara berpikir, perilaku, dan ketrampilan agar bisa mendapatkan manfaat dari kendaraan bermotor itu. Ada perubahan yang menuntut penyesuaian perilaku demi mendapatkan manfaat dari sarana modern tersebut; sepeda motor, mobil, listrik, televisi, setrika, gadget, dan sebagainya.
Selain untuk transportasi dan mempermudah aktivitas, ternyata kendaraan bermotor di kampung adat juga melahirkan aspek gengsi sosial. Anak muda yang memiliki kendaraan bermotor juga bergaya, ada prestise sosial. Begitu pula keluarga yang mempunyai mobil, ada gengsi sosialnya.
Kampung adat pun berubah dalam banyak hal dengan hadirnya kendaraan bermotor dan jalan raya. Wajah kampung adat pun berbenah dan berubah makin sumringah.
Semoga nilai adat budaya yang luhur tidak berubah dalam penghayatan hidup anggota komunitas pemiliknya.

