Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sungguh, kematian secara rohani, justru jauh lebih mengerikan.”
(Didaktika Hidup Beriman)
Makna Semantik dan Fenomenanya
Secara semantis, yakni bagian linguistik yang mempelajari arti dan makna dari sebuah kata atau bahasa. Maka, secara idiomatikal ungkapan “Pembunuh berdarah dingin,” dapat bermakna orang yang tanpa merasa takut, cemas, atau bersalah; dan darah mereka seolah-olah dingin tanpa emosi.
Jika tinjauan dari aspek psikologis, fenomena ini merupakan sebentuk gangguan pribadi yang antisosial, karena pelaku sangat berantipati terhadap pihak lain. Fenomena yang merupakan gangguan khas ini ada di mana saja dalam kehidupan riil kita manusia. Bahkan mungkin saja, dia adalah Ibu kita, Guru kita, atau kekasih kita.
Si Pembunuh Berdarah Dingin Tampil lewat Aneka Cara dan Sikon
Berikut ini ditampilkan ‘dua buah peristiwa konkret’ sebagai aksi nyata yang disarikan dari beberapa sumber yang dapat dipercaya!
- Seorang Ibu paro baya, sangat gusar, saat putri semata wayangnya menyampaikan, bahwa dirinya tidak meraih kejuaraan dalam aktivitas lomba berpidato.
Maka, dengan tidak tanggung-tanggung, segera disemprotkannya pernyataan pedas: Percuma saja kau, buat malu keluarga. Stop, mulai sekarang, jangan lagi kau turut dalam ajang lomba apa pun!
- Seorang Guru muda bersikap bringas, dengan memukulkan sebatang penggaris ke atas meja, karena murid-muridnya ternyata belum mampu membaca.
Dengan suara lantang dicercanya para murid lewat ucapan yang mematikan spirit belajar mereka: Ibu Guru sangat kecewa, karena kalian bodoh dan malas belajar.
Dampak Psikologis bagi Anak dan Para Murid
Lewat kedua aksi konkret yang sudah ditampilkan oleh seorang Ibu Rumah Tangga (di rumah), dan seorang Ibu Guru (di sekolah), maka dapat disimpulkan, bahwa ‘kedua sosok Ibu ini, selaku pendidik utama dan pertama serta Ibu Guru’, bahwa keduanya dapat dikategorikan sebagai sosok si “pembunuh berdarah dingin.”
Mengapa? Ya, karena keduanya telah bersikap dengan ‘tanpa perasaan dan sikap berantipati, melontarkan kata lewat intonasi yang dapat ‘membunuh karakter’ diri dan pribadi anak dan para murid lewat: cercaan, omelan, dan sikap bringas.
Inilah Dampak-dampak Negatif!
- Merusak dan mematikan suasana kenyaman di dalam diri si anak dan para murid.
- Menimbulkan rasa takut dan malu, hina, dan hilangnya harga diri serta harapan di dalam diri si anak dan para murid.
- Si anak dan para murid itu akan kehilangan sikap percaya diri, karena menganggap diri ini bodoh dan terbuang.
Lewat beberapa buah kata bernada pedas seperti: “memalukan, mengecewakan, pemalas, dan bodoh” justru berdampak akan mematikan spirit belajar serta harapan di dalam diri anak dan para murid.
Refleksi
Ingatlah!
- “Siapakah sesungguhnya, sang pembunuh berdarah dingin itu?”
- Ironis namun dapatlah dipercaya, bahwa sesungguhnya para pembunuh berdarah dingin itu, justru orang-orang yang paling dekat dengan anak dan para murid.
- Inilah yang dinamakan ‘kematian secara nurani dan rohani.’
Kediri, 2 November 2025

