“Belas kasih Allah tak pernah berhenti bertindak. Bahkan, ketika hati manusia diam, kasih-Nya tetap menjangkau yang menderita.”
Yesus duduk makan di rumah seorang pemimpin Farisi pada hari Sabat. Semua mata tertuju kepada-Nya. Ada di antara mereka yang mencari kesalahan, tapi ada pula yang menanti penuh harapan.
Hati Yesus digerakkan oleh kerahiman Allah melihat seorang yang sakit busung air, lalu bertanya: “Bolehkah menyembuhkan orang pada hari Sabat?”
Tidak ada jawaban, selain hanya keheningan dari hati yang terbelenggu oleh ketakutan dan kesombongan.
Dengan kelembutan Ilahi, Ia lalu menggenggam tangan orang itu dan menyembuhkannya. Melalui tindakan itu, Yesus menyingkapkan, bahwa kasih adalah pemenuhan sejati dari hukum. Sabat diciptakan untuk kasih, bukan untuk mengekang. Hanya Sang Pemberi Hukum yang berhak menunjukkan, bahwa belas kasih tidak mengenal waktu.
Ya, Allah, orang Farisi dan orang sakit itu sama-sama memandang Yesus. Orang Farisi melihat ancaman; yang sakit melihat Penyelamat. Sering kali, kami pun berdiri di antara dua pandangan ini: ragu melihat Engkau di tempat di mana belas kasih menantang kenyamanan kami.
Bapa, bukalah mata kami untuk mengenali kehadiran-Mu yang penuh kasih di setiap saat, buatlah kami peka terhadap karya belas kasih-Mu di tengah keseharian, dan gerakkan hati kami untuk bertindak dengan cinta yang membebaskan.
Seperti Engkau telah memilih Israel untuk jadi pembawa janji-Mu,
pilihlah kami kembali jadi saksi belas kasih-Mu. Bkan hanya dengan kata-kata, melainkan melalui tindakan yang menyembuhkan, memulihkan, dan mempersatukan.
Kiranya hati kami, yang telah Kaujamah dengan kasih-Mu jadi terang bagi yang berjalan dalam bayang-bayang, dan pengharapan bagi yang dibebani ketakutan. Hingga hidup kami sendiri jadi kesaksian bahwa: “Tuhan membangun, memulihkan, dan menebus umat-Nya.”
Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

