Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Janganlah engkau mudah percaya kepada seekor keledai dungu”
(Didaktika Hidup Sadar)
Orang Bebal pun Sama seperti Seekor Keledai
Dunia pun bersepakat, bahwa “seekor keledai dapat menyimbolkan suatu kebodohan.”
Di dalam kitab Amsal (26: 11) dikatakan, bahwa “Orang bebal yang mengulangi perbuatan bodohnya, sama seperti anjing yang kembali memakan muntahannya.”
Selain itu, seorang filsuf Yunani kuno, Plato mengatakan, bahwa “Orang yang tidak bijak alias bodoh dapat disejajarkan dengan seekor keledai dungu.” Sehingga kebenaran dari kedua petuah nan agung ini dapat tersimpan rapi di dalam kesadaran manusia hingga kini.
Hal Kejujuran
Sekelompok guru muda sedang melaksanakan Ujian Kedinasan tahunan secara rutin. Kepada mereka disuguhkan daftar sejumlah buku dan pengarangnya.
Para peserta ujian diminta untuk menandai judul-judul buku yang mana saja yang telah mereka baca.
“Telitilah judul-judul buku yang mana yang telah Anda baca dan berilah tanda!”
Hal yang mengejutkan terjadi, setelah Tim Pemeriksa Ujian mengumumkan hasilnya.
Sepertiga dari peserta ujian menjawab, bahwa mereka telah membaca buku-buku itu dan bahkan ada peserta ujian yang mengaku telah membaca hampir semua buku itu.
Akhirnya, lewat Proses Ujian ini, disimpulkan, bahwa para peserta ujian dinas ini adalah pembohong nan dungu alias bodoh.
Mengapa? Karena ternyata dua puluh lima (25) judul buku dari lima puluh (50) judul buku yang terdaftar itu, memang tidak pernah ada.
Paula Philips
(1500 Cerita Bermakna)
Hidup hanyalah Adegan Sandiwara
Lewat konteks dan proses ujian ini, dapat disimpulkan, bahwa ‘ternyata dalam hidup ini, kita hanyalah ibarat para pelakon sandiwara semata.’
Karena betapa sulit kita menemukan sosok-sosok sejati yang dapat bersikap jujur, berpribadi cerdas, dan bersikap mampu untuk mandiri.
Keledai-keledai yang Mudah Terperosok ke dalam Lubang Kedunguan
Kita dan para guru kita kini, ternyata ibarat keledai dungu yang sangat mudah terperosok ke dalam lubang kedunguan. Tak ada lagi taji cerdas sebagai kemuliaan yang terpancar dari dada tulus seorang guru hebat. Sirnalah kemuliaan dan keagungan karakter agung seorang guru.
Guru Buta tidak Dapat Membimbing Murid
Pepatah bangsa kita mengatakan, bahwa “orang buta tidak dapat membimbing orang buta.” Semoga pepatah petitih nan agung ini, jadi alat ukur handal dalam merekrut dan menyeleksi para calon guru kita.
Karena bukankah proses pendidikan tidak identik dengan kebohongan dan kedunguan? Malah proses pendidikan itu anti berkamuflase. Anti berekayasa. Maka, proses pendidikan sejati ibarat melintasi sebuah jalan kebenaran dan kesejatian.
Refleksi
“Bona culina, bona disciplina”
(Hanya dari dapur yang baik itu menentukan disiplin yang baik pula)
“Inermis est veritatis, arma veritatis veritas”
(Kebenaran tidak memiliki senjata, senjata kebenaran adalah kebenaran itu sendiri).
Kediri, 31 Oktober 2025

