“Maklum!” Kata itu yang sering meluncur dari Guru Bijak. Salah satu kata sakti yang terekam di kepala seorang cantrik yang sering menemani Guru Bijak jalan-jalan keliling pedesaan.
Ketika di simpang jalan, Guru Bijak ditabrak pejalan kaki yang terburu-buru, hingga orang itu nyaris jatuh.
“Maaf, nggih …!” kata orang itu menyilangkan tangannya di dada, tersenyum, melambaikan tangan, lalu bergegas pergi.
“Lho, kok kamu yang ngomel padahal bukan kau yang ditabrak,” gurau Guru Bijak tersenyum.
“Jalan kok seperti ‘bagong’ (celeng) tidak lihat kiri kanan,” sanggahnya.
“Dia buru-buru. Ada urusan. Ya, dimaklumi.”
“Kok selalu maklum, dimaklumi, dimaafin …,” sanggahnya.
“Lha, bagaimana lagi?! Kemarahan itu tidak menyelesaikan masalah. Dengan memaklumi, memaafkan, kita tidak mempunyai ganjalan. Hati ini jadi plong. Kita enjoy dan damai.”
“Benar. Kenyataannya tidak semua orang yang dimaafkan dan dimaklumi itu tahu diri, menyadari perbuatannya. Bahkan ada orang yang jelas bersalah, karena mobilnya nabrak, tapi marah duluan supaya dia dapat ganti rugi.”
“Ada juga orang yang tersangka korupsi, muncul di publik dengan tertawa lebar dan bangga. Tidak mempunyai rasa malu dan merasa bersalah. Sebaliknya komentarnya, ia dijebak atau didholimi. Juga masih banyak contoh lagi.”
“Apakah perbuatan seperti ini dimaklumi?!”
“Ya, tidak! Orang yang melakukan kesalahan dan merugikan orang banyak itu tidak layak dimaklumi atau dibenarkan. Sebaiknya ditegur dan diingatkan. Kita mesti berlaku adil dengan kasih.”
“Memaklumi untuk orang lain itu syah dan dibenarkan, tapi tidak berarti melakukan pembiaran atau memasabodohkan suatu permasalahan. Kita wajib mengingatkan, mengarahkan atau mungkin menyadarkan. Sekiranya seseorang itu terlupa atau lupa diri. Sebaliknya, jika kita melihat atau mendukung terjadinya pembiaran itu berarti kita juga ikut bersalah dan bertanggung jawab.”
“Memaklumi itu hendaknya didasari dengan tulus ikhlas supaya dada ini tidak menyesak sakit. Misalnya, kita biasa dibuatkan kopi di pagi hari oleh istri. Berhubung istri sedang sibuk mengurus anak, ya, kita menyeduh kopi sendiri. Ketika pulang kerja dan capai, istri tidak meladeni kita makan bareng, karena istri bezoek orang sakit. Jika kita ngomel menyalahkan istri yang melupakan kewajibannya atau kurang perhatian itu keliru …”
“Memaklumi, berarti kita belajar untuk memahami; kita tidak mudah menyalahkan orang lain. Kita belajar untuk rendah hati agar dimampukan untuk mengampuni; sekaligus menjauhkan kita dari rasa benci dan dendam.”
“Sebaliknya, bila memaklumi diri sendiri berarti kita cenderung tidak mau disalahkan. Jika hal ini dilakukan terus menerus berarti kita membenarkan-memanjakan-mengasihi diri sendiri. Kita cenderung menilai sesuatu berdasar pola pikir dan dari kacamata sendiri.”
“Misal kita tidak pergi ke rumah ibadah, karena flu; ada kondangan, arisan, dsb. Kita sekadar berkilah dan mencari alasan. Padahal, sebenarnya kita ini pemalas. Jangan beralasan, bahwa yang penting toh hati kita … Lalu, yang menilai hati kita itu baik, siapa? Ya, diri sendiri. Penilaian kita jelas berbeda dengan penilaian Allah, karena Ia melihat hati.”
“Memaklumi diri sendiri secara terus menerus, berarti memanjakan dan mengasihi diri sendiri. Sebelum penyakit ini jadi kronis, alangkah bijak, perasaan itu amputasi agar tidak jadi penyakit kronis. Kita jadi egois dan mau menang sendiri.”
“Kita harus belajar terus menerus memaklumi dan memahami orang lain. Kita membuka hati dan rendah hati. Dengan kerendahan hati itu kita dimampukan untuk mudah memahami dan memaafkan orang lain.”
“Orang yang mudah mengampuni dan murah hari itu jiwanya damai dan hidupnya bahagia.”
Anda selalu minta dimaklumi atau memaklumi orang lain itu sepenuhnya terserah Anda…
Memahami ikhlas hati itu kebijaksanaan dan anugerah-Nya.
Mas Redjo

