Red-Joss.com – Sekitar 15 tahun yang lalu, salah satu sahabat dalam pelayanan meninggalkan Sanberna untuk menetap di Solo.
Di Sanberna, ia pernah menjabat sebagai Sekretaris SPI mendampingi katekis paroki yang sekaligus Ketua. Kami bertiga membantu tim SPI melayani umat sesuai dengan serdes (service description). Karena sakit komplikasi kemarin, beliau menerima Sakramen Minyak Suci.*
“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Rat 3:22-33)
Itulah doaku untuk beliau pagi ini. Tak terjangkau oleh nalarku yang pendek ini, tapi nurani menuntun pikiranku untuk makin melihat: “betapa kayanya aku pagi ini.”
Pagi ini saya bangun dengan tarikan nafas yang segar. Dengan mata ini saya dapat melihat dengan terang. Tanganku bagus, tidak kesemutan. Kakiku juga baik, ada kaku sedikit, tapi setelah kugerakkan semua lancar. Ketika ke kamar mandi, semuanya lancar. Pikiranku juga normal, ingat apa yang saya impikan dan tahu bedanya mimpi dengan kenyataan.
Saya merasa bahagia, ketika bangun. Jiwaku merasa sangat dekat dengan Tuhan dan tak bisa lain kecuali mengucap: “betapa kayanya saya pada pagi ini.”
Kekayaan yang sesungguhnya tidak ditentukan oleh harta duniawi. Dalam falsafah Jawa disebut Sugih tanpo bondo. Falsafah hidup yang berasal dari Raden Panji Sosrokartono, kakak dari RA Kartini. Mengingatkan kita, bahwa kekayaan yang hakiki ada dan melekat dalam diri kita masing-masing. Yang ditengarai dengan hidup sehat sebagai karunia Allah.
Tetap senang berbagi cahaya.
…
Jlitheng

