“Setiap Rasul, dulunya hanya orang biasa. Ketika disentuh oleh belas kasih Allah, hidup mereka jadi perwujudan pesan-Nya.”
Yesus menghabiskan malam dalam doa, lalu memilih 12 murid yang diutus jadi Rasul bagi dunia. Mereka hanyalah orang-orang sederhana, dengan segala kelemahan dan keterbatasan, tapi Ia memanggil mereka bukan karena kesempurnaan, melainkan karena rencana kasih-Nya.
Melalui mereka, Tuhan mulai membangun keluarga iman yang baru, seperti dikatakan Rasul Paulus: “Kamu bukan lagi orang asing atau pendatang, melainkan warga umat Allah dan anggota keluarga-Nya.” Yesus sendiri jadi batu penjuru, dan di atas fondasi ini seluruh Gereja dibangun jadi bait suci tempat Roh Kudus berdiam.
Seperti langit menceritakan kemuliaan-Nya, dan cakrawala menyatakan karya tangan-Nya hari demi hari, demikian pula hidup kami kiranya memancarkan kebenaran-Nya, perkataan kami mengungkapkan kerahiman-Nya, dan tindakan kami menandakan hadirnya Kerajaan-Nya.
Bapa, Engkau mengutus para Rasul bukan untuk mendirikan bangunan,
melainkan untuk membangun manusia; bukan untuk memenangkan perdebatan, melainkan untuk memenangkan hati. Simon sang Zelot belajar mengganti kekerasan dengan damai, Yudas Tadeus belajar percaya, bahwa bagi-Mu tidak ada yang mustahil. Keduanya menemukan, bahwa kekudusan berawal, ketika kami mengizinkan kasih-Mu menulis ulang hati kami.
Tuhan Yesus, seperti Engkau berdoa semalam suntuk sebelum memanggil sahabat-sahabat-Mu,
demikian pula sekarang, doakanlah kami agar setia pada panggilan kami.
Ketika Engkau memanggil untuk melayani, berilah kami keberanian untuk menjawab.
Ketika Engkau mengutus untuk mengasihi, gerakkan kami tanpa menunda.
Ketika Engkau membangun kami jadi Gereja-Mu, satukanlah kami dalam kasih, lembutkan hati kami dalam Roh, dan penuhi kami dengan cahaya-Mu.
Semoga teladan St. Simon dan St. Yudas membangkitkan kembali kerinduan kami untuk jadi murid sejati yang berakar dalam Engkau, Batu Penjuru kami, dan jadi tanda harapan di tengah dunia yang terpecah.
Sebab Engkaulah, ya Tuhan, yang mengubah yang mustahil jadi rahmat, dan yang biasa jadi kudus. Amin.
“Tuhan, bangunlah hidupku di atas kasih-Mu, agar aku jadi tempat kediaman-Mu.”
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

