Salah mengenali orang itu biasa. Banyak di antara kita yang terperdaya, karena kemiripan wajah seseorang. Gara-gara terlanjur menegur dan sok akrab yang berakibat malu sendiri. Ternyata kita salah mengenali orang!
Ada juga orang yang berperangai baik, sopan santun, dan murah hati. Kenyataannya, mereka itu memberi sekadar pamrih. Karena ada udang di balik batu. Untuk pencitraan dan niatnya jahat.
Salah mengenali itu tidak jauh dari salah menilai orang. Coba dengar dan amati di sekitaran kita. Ada orang yang rumahnya kebanjiran, tapi rela berbagi sembako dengan tetangga yang juga kebanjiran.
Seorang Ibu yang ikhlas berbagi Jumat berkah dengan menggratiskan jualan nasinya, bahkan termasuk hutangnya pembeli.
Romantisme hidup itu berdenyut. Bisa muncul entah di mana dan kapan saja. Tidak dibatasi oleh tempat atau waktu. Terkadang muncul dengan kocak dan kekonyolannya.
Seperti yang saya alami saat menyapu jalanan di depan rumah. Tiba-tiba seorang membuka jendela mobil, lalu membuang sampah di dekat bak sampah. Saya hanya sanggup menggelengkan kepala karena melihat kelakuan orang kaya yang konyol, dan tidak patut ditiru itu.
Juga, saat awal merintis usaha, saya mengirim barang dengan sopir. Pakaian yang lusuh dan dekil, membuat saya sering kali diomelin oleh pelanggan. Mereka mengira saya kenek, karena ikut menaik-turunkan barang. Ada juga yang minta dihutangi, padahal perjanjian membayar tunai.
“Maaf, Bos tadi berpesan pada saya, Pak,” kilah saya sopan. Saya tidak mau membuka identitas diri. Sekiranya pembeli mengotot, saya meminta agar menelepon ke toko. Istri tidak menjelaskan identitas pengirim barang. Mengapa? Agar pembeli tidak malu.
Ada juga sales yang datang ke toko menawarkan barang. Karena saya membantu mengangkat barang, sales itu bertanya, “Bang, ada Bosnya?”
“Bos, ada yang nyariin …!” teriak saya ke dalam gudang. Istri saya cuwek sambil menghitung barang yang dinaikkan ke mobil.
“Mungkin Bos ke luar makan, ada pesan?” Jelas saya meminta sales itu untuk menunggu. Jika ia ngotot, mau tak mau saya terpaksa mengenalkan diri. Tanpa menegur, saya memberi masukan untuk bertanya secara benar dan sopan, “Maaf, Bang. Bisa ketemu yang punya toko….”
Meminta maaf itu tidak berarti mengakui salah, mempermalukan, atau merendahkan diri. Sebaliknya, menunjukkan tata krama dan jatidiri si penanya.
Intinya agar kita belajar rendah hati untuk tidak meremehkan orang lain didasari tampilan luarnya, karena penampilan itu sering kali menipu.
Jika kita tidak mau diremehkan, sebaiknya tidak remehkan orang lain terlebih dulu. Sekaligus agar kita tidak dipermalukan oleh sikap dan perilaku sendiri.
Rendah hati menyikapi…
Mas Redjo

