Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Red-Joss.com – Konon, seorang remaja sangat miskin, saat ditanya sang pemilik toko untuk mendapatkan data dan latar belakang sang remaja sebagai calon pelayan toko menjawab:
“Tuanku, saya tidak memiliki keahlian apa pun, kecuali sekeping hati saya.”
Sang Tuan toko itu pun terperanjat, … celetuknya, sudah hampir tiga puluh tahun, saya mengelola sebuah toko, jujur, belum pernah sekalipun, saya mendapatkan jawaban seperti ini.
Biasanya, lanjut sang pemilik toko, sang pelamar itu selalu menjawab, saya lulusan SMA, atau SMK, bahkan dengan bangga, saya, dengan sedikit membusungkan dada, lulusan S1, sarjana ini dan sarjana itu.
Kali ini, dia sungguh terperanjat atas jawaban tulus sang remaja, bocah berusia entah 12 atau mungkin 13 tahun itu.
“Tuanku, saya hanya memiliki sekeping hati.”
Dalam teori Sumber Daya Manusia (SDM), dikenal sejumlah ukuran kecerdasan sang manusia.
Lewat proses psikotes, akan ditemukan sejumlah kecerdasan, antara lain, IQ, EQ dan SQ. Atau juga, kecerdasan lain seperti bakat, minat, dan kecerdasan sosial.
Secara teoritis, bahwa kecerdasan emosi (EQ) dan kecerdasan spiritual lah yang sangat dominan dalam meraih kesuksesan hidup.
Kecerdasan otak, nalar, IQ justru hanya 20 persen untuk menopang kesuksesan seseorang. Sedangkan kecerdasan EQ dapat mencapai 80 persen dan bahkan, 100 persen untuk pemilik kecerdasan SQ.
Saudara, jika kita kembali kepada jawaban polos tulus sang bocah, remaja polos itu, maka sewajarnya beruntunglah sang pemilik toko itu, karena dia akan mendapatkan seorang karyawan yang memiliki sekeping hati dan hal ini, berkaitan langsung dengan kecerdasan emosi (EQ).
Saudara, belajar menjadi arif dan rendah hati sebagai gerbang menuju pintu kebijaksanaan, bukanlah bagai sekadar membalik telapak tangan Anda dan saya.
Menjadi pribadi dengan predikat arif, sederhana, jujur, serta polos tulus itu dibutuhkan sikap kerendahan hati serta proses sadar diri yang meliuk berliku.
Semoga, lewat tulisan sederhana ini, nurani kita pun tersentuh tersentak untuk segera bangkit dan bahkan berlari menuju sebuah kesadaran baru.
Ternyata, seorang pribadi menjadi besar dan agung, pertama-tama justru karena kerendahan hatinya, ditunjang kecerdasan emosi, serta spiritual, dan bukan hanya berdasarkan gelar kesarjanaannya.
Mari, hargailah sesosok pribadi pertama-tama, karena faktor kemanusiaannya yang jujur, tulus, setia, rendah hati, serta sadar diri tinggi. Inikah figur yang kita cari.
Semoga, sang pemilik toko itu serta para pemimpin dunia ini tidak terjebak di dalam lumpur kepicikan lagi, dengan lebih menganakemaskan makhluk-makhluk berotak dan berotot saja.
…
Kediri, 26 Januari 2023

