Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sebuah lonceng, ketika dibunyikan, baru disebut lonceng. Lagu, kala dinyayikan, baru disebut lagu.”
(Baroness de Hueco)
Apa yang Dikisahkan oleh Sebatang Lilin Bernyala kepada Kita?
Lilin, atau sebatang lilin, sudah tidak asing lagi bagi kita sebagai simbol terang atau cahaya dari Sang Ilahi dalam tradisi Kekristenan. Bahkan ia jadi kian tenar sebagai simbol seberkas cahaya mungil yang juga simbol suatu pengorbanan demi menerangi hidup kita.
Seruan Lirih dari Sebatang Lilin
Engkau telah menyalakan aku dan kini engkau menatap padaku. Kini engkau juga tengah menikmati kehangatan dari apiku. Hatiku sungguh bahagia, karena aku mampu menyenangkan hatimu. Sku juga kian sadar, bahwa apa faedahnya, jika aku hanya tersimpan rapi dalam sebuah kotak yang tertutup mati?
Di kala aku mulai bernyala, aku sadar, bahwa aku telah bermakna bagimu dan juga bagiku sendiri. Bukankah ketika itu, aku boleh berbangga, bahwa ternyata aku ini sangat berfaedah bagimu.
Di sisi lain, sebagai ciptaan yang dina papa, aku juga sadar, bahwa lambat laun, aku akan habis dan akhirnya benar-benar habis. Di kala itu, kamu sempat berceloteh, “Eh, lilin itu telah habis terbakar.”
Sesungguhnya, aku ini memang tidak mempunyai pilihan lain. Karena bukankah hidup atau matiku, hanya atas kehendak manusia? Namun, dari balik suatu pengalaman yang sungguh pahit dan menyakitkan itu, ternyata ada aspek kebermaknaannya. Bukankah pengorbanan itu adalah suatu yang indah dan bermakna?
Kita pun adalah Sebatang Lilin
Apakah Anda harus menutupi kotak diri Anda dengan sehelai selimut tebal, yang di dalamnya justru terasa kian dingin dan hampa? Ataukah kita perlu membaur dan membagi cinta serta kehangatan kita kepada sesama?
Dari sebuah Saduran:
Tanget
(1500 Cerita Bermakna)
Sebatang Lilin dan Pengorbanan
Walaupun kita memang tak pernah berniat untuk menghitungnya, tapi sudah berapa ribu atau bahkan berjuta batang lilin mungil yang telah kita nyalakan dan korbankan? Jawabannya, walau tidak pasti, tapi tentu sudah sangat banyak. Sudah tidak terhitung lagi.
Di sisin yang lain, bukankah sebatang lilin sebagai simbol kehidupan, justru baru benar-benar disebut sebatang lilin, justru setelah dinyalakan hingga tetes cairan dirinya yang paling ahkir? Lelehan dan gumpalan cairan yang mengeras itu akhirnya menempel dan menjalar ke sekitarnya. Itulah sebuah tanda konkret, bahwa ia telah berkorban untuk suatu kehidupan?
Ya, bukankah itulah niat dan tujuan dari diciptakannya sebatang lilin? Itulah fungsi sosialnya. Tujuan termulia dari terciptanya sebatang lilin, bukan?
Bukankah sebatang lilin itu baru benar-benar disebut lilin, justru setelah ia dibakar, bernyala, lalu luluh, dan habis?
Refleksi
“Bukankah setangkai cinta di dalam dirimu tidak dianugerahkan untuk disimpan? Sejatinya, cinta bukanlah cinta, jika Anda tidak menyalurkan dan membakarnya hingga bernyala dan mati!”
In te Confido!
Kediri, 27 Oktober 2025

